Halaman

Kamis, 16 Mei 2013

PETA KOGNISI TEORI TINGKAH LAKU PSIAN-HUMANISTIK



A.  PSIKOANALISIS
1.    Sejarah dan Tokoh
Teori Psikoanalisis atau Psikodinamika merupakan induk dari teori-teori kepribadian yang ada saat ini.Teori ini dicetuskan oleh Sigmund Freud.Ia adalah sorang dokter psikiatri (Sofyan, 2004: 57). Freud lahir pada tahun 1896 lahir di Freiburg, Moravia.Freud adalah dokter muda ambisius yang percaya bahwa dirinya telah menemukan sebuah obat yang memiliki semua jenis khasiat ajaib, yaitu untuk mengurangi rasa sakit atau untuk meningkatkan performa (Feist dan Feist, 2008: 17).Obat yang diceritakan olehnya adalah kokain.
Pada mulanya psikoanalisis adalah suatu metode untuk menghilangkan gangguan-gangguan pada susunan saraf (gejala-gejala sakit hysteria) seperti penemuan kokain yang diceritakan oleh Freud. Akan tetapi, metode tersebut lama kelamaan menjadi metode untuk menyelidiki proses alam bawah sadar.Tokoh yang termasuk aliran ini adalah dr. Breuer.

2.    Konsep Dasar
Teori Psikoanalisis merupakan teori kepribadian yang menyatakan bahwa struktur kepribadian manusia terdiri dari 3 unsur, yaitu id, ego dan superego.
a.    Id (es)adalahkomponen biologis, sebagai sistem kepribadian yang orisinil. Id berupa dorongan-dorongan primitif yang mengutamakan prinsip kesenangan. Id  bersifat tidak sadar dan irasional. Contoh: dorongan seksual, dorongan agresi
b.    Ego(ich)adalah komponen psikologis yang melakukan kontak dengan dunia  realitas. Karena kontak dengan realitas inilah, ego menjadi pengontrol utama kesadaran, menyediakan pemikiran dan perencanaan yang relistik dan logis, dan akan sanggup meredam hasrat-hasrat irasional id.
c.    Superego ( uber ich) adalah komponen sosial (Corey, 2003: 14). Superego yang bertugas sebagai penentu baik buruknya. Superego juga bersifat sesuai norma yang ditentukan oleh kebudayaan. Dorongan primitive dari id akan dihubungkan oleh ego menggunakan prinsip realitas dan akan dinilai oleh superego.

Dorongan atau hasrat dari idseperti keinginan untuk makan semua makanan karena lapar disalurkan oleh ego kepada superego.Ego mengatur keseimbangan agar keinginan makan semua makanan disesuaikan dengan reaslitas.Superego membatasi kalau yang dimakan hanyalah makanan yang ada di piring sendiri dan menyatakan kalau memakan makanan orang lain adalah tidak baik.
Dalam mekanisme ketiga unsur kepribadian tersebut, peran ego cukup berat karena harus mengatur keseimbangan agar dorongan dari id yang dimunculkan ke kesadaran tetapi juga agar tidak dorongan superego saja yang dipenuhi. Orang yang memiliki ego lemah, yaitu terlalu dikuasai oleh dorongan id saja, maka orang tersebutakan menjadi psikopat (tidak memperhatikan norma-norma sosial dalam segala tindakan). Sedangkan orang dengan ego yang terlalu dikuasai oleh superego, maka ia akan menjadi psikoneurose (tidak menyalurkan sebagian besar dorongan primitifnya).
Ego dapat melakukan mekanisme pertahanan (defence mechanism) untuk melindunginya dari ancaman dorongan primitive yang mendesak terus karena tidak diijinkan oleh superego. Terdapat 9 mekanisme pertahanan ego yaitu:
1.    Represi, yaitu suatu bentuk pertahanan dimana hal yang pernah dialami dan menimbulkan ancaman bagi ego ditekan masuk ke ketidaksadaran dan disimpan di sana agar tidak mengganggu ego lagi
2.    PembentukanReaksi, yaitu suatu bentuk pertahanan dimana seseorang justru bereaksi sebaliknya dari yang dikehendakinya demi tidak melanggar ketentuan superego
3.    Proyeksi, yaitu suatu bentuk pertahanan dimana karena superego melarang seseorang mempunyai perasaan atau sikap tertentu terhadap oran lain, maka ia bersikap seolah-olah orang lain yang mempunyai sikap atau perasaan tersebut
4.    PenempatanyangKeliru, yaitu bentuk pertahanan dimana seseorang tidak dapat melampiaskan perasaan tertentu terhadaporang lain karena hambatan superego, maka ia melampiaskannya ke pihak ketiga
5.    Rasionalisasi, yaitu bentuk pertahanan dimana dorongan-dorongan yang sebenarnya dilarang oleh superego dicarikan penalaran sedemikian rupa sehingga dapat dibenarkan
6.    Supresi, yaitu bentuk pertahanan dengan jalan menekan sesuatu yang dianggap membahayakan ego ke dalam ketidaksadaran
7.    Sublimasi, yaitu bentuk pertahanan diri dimana dorongan-dorongan yang tidak dibenarkan oleh superego tetap dilakukan dalam bentuk yang lebih sesuai dengan norma yang berlaku di masyarakat
8.    Kompensasi, yaitu usaha menutupi kekurangan di salah satu bidang atau organ lain dengan meningkatkan prestasi di bagian lainnya
9.    Regresi, yaitu bentuk pertahanan untuk menghindari kegagalan-kegagalan atau ancaman dari ego, seseorang mundur kembali ke taraf perkembangan yang lebih rendah.
Teori Psikoanalisis memandang tingkah laku sebagai hasil dari mekanisme ketiga unsur kepribadian dalam struktur kepribadian yang melibatkan id, ego dan superego.Tingkah laku berasal dari dorongan-dorongan primitif yang diseleksi oleh superego melalui peran ego dalam menyalurkannya.Artinya, tingkah laku dipengaruhi oleh dorongan-dorongan ketidaksadaran (alam bawah sadar).
d.   Teknik-Teknik yang Digunakan
1)   Asosiasi bebas
Teknik pokok dalam terapai psikoanalisa adalah asosiasi bebas.Konselor memerintahkan klien untuk menjernihkan pikiranya adari pemikiran sehari-hari dan sebanyak mungkin untuk mengatakan apa yang muncul dalam kesadaranya. Yang pokok, adalah klien mengemukakan segala sesuatu melalui perasaan atau pemikiran dengan melaporkan secepatnya tanpa sensor.Metode ini adalah metoda pengungkapan pangalaman masa lampau dan penghentian emosi-emosi yang berkaitan dengan situasi traumatik dimasa lalu.
2)   Interpretasi
Adalah prosedur dasar yang digunakan dalam analisis asosiasi bebas, analisi mimpi, analisis resistensi dan analisis transparansi.Prosedurnya terdiri atas penetapan analisis, penjelasan, dan mengajarkan klien tentang makna perilaku dimanifestasikan dalam mimpi, asosiasi bebas, resistensi dan hubungan terapeutik itu sendiri. Fungsi interpretasi adalah membiarkan ego untuk mencerna materi baru dan mempercepat proses menyadarkan hal-hal yang tersembunyi.
3)   Analisis mimpi
Merupakan prosedur yang penting untuk membuka hal-hal yang tidak disadari dan membantu klien untuk memperoleh tilikan kepada masalah-masalah yang belum terpecahkan.
4)   Analisis dan interpretasi resistensi
Freud memandang resistensi sebagai suatu dinamika yang tidak disadari yang mendorong seseorang untuk mempertahankan terhadap kecemasan.Interpretasi konselor terhadap resistensi ditujukan kepada bantuan klien untuk menyadari alasan timbulnya resistensi.
5)   Analisis dan interpretasi transferensi
Transferensi muncul dengan sendirinya dalam proses terapeutik pada saat dimana kegiatan-kegiatan klien masa lalu yang tak terselesaikan dengan orang lain, menyebabkan dia mengubah masa kini dan mereaksi kepada analisis sebagai yang dia lakukan kepada ibunya atau ayahnya ataupun siapapun.
2)   Kelebihan dan Kelemahan
Kelebihan
1.      Konseling psikoanalisis merupakan penyembuhan yang lebih bersifat psikologis dengan cara-cara fisik
2.      Adanya penyesuaian antara teori dan teknik
3.      Teori kepribadian dan teknik terapi
4.      Model penggunaan wawancara sebagai alat terapi
5.      Terlalu meminimalkan rasionalitas
Kekurangan
1.         Pandangannya yang terlalu deterministic dan dinilai terlalu merendahkan martabat manusia.
2.         Terlalu banyak menekankan kepada pengalaman kanak-kanak, dan menganggap kehidupan seolah-olah sepenuhnya di tentukan masa lalu. Hal ini memberikan gambaran seolah-olah sepenuhnya tanggung jawab individu berkurang.
3.         Terlalu meminimalkan rasionalitas.

3)   Aplikasi/Penerapan Teori
Psikoanalisis memberikan kepada konselor suatu kerangka konseptual untuk melihat tingkah laku serta untuk memahami sumber-sumber dan fungsi-fungsi simptomologi yang tampil sekarang.Psikoanalisis juga sangat berguna untuk memahami fungsi pertahanan-pertahanan ego sebagai reaksi-reaksi terhadap kecemasan. Jika konselor mengabaikan sejarah masa lampau kliennya, berarti ia membatasi pandangannya atas penyebab-penyebab penderitaan yang dialami oleh klien dan sifat gaya hidup klien sekarang. Hal itu tidak berarti bahwa konselor harus terpaku pada masa lampau klien,menggali dan membahasnya secara eksklusif, tetapi berarti bahwa pengabaian pengalaman-pengalaman masa dini sebagai determinan-determinan konflik-konflik yang terjadi sekarang membatasi kemampuan konselor untuk membantu pertumbuhan klien. Tidak ada alasan untuk menimpakan kesalahan pada masa lampau atas fakta bahwa klien sekarang, umpamanya, tidak mampu mencintai.Akan tetapi, bagaimanapun, jika klien merasa takut untuk membentuk hubungan yang akrab dengan orang lain, maka konselor harus memahami akar-akar kekuragan kliennya itu. Tambahan pula, konseling akan mencakup penembusan sejumlah rintangan masa lampau yang sekrang menghambat klien dalam mencintai.



B.  HUMANISTIK
1.    Sejarah dan Tokoh
Sejarah
Sepanjang sejarah keinginan manusia untuk mengetahui sebab-sebab tingkah lakunya dan semenjak psikologi menjadi pengetahuan yang otonom, masalah aspek kejiwaan yang mengatur, membimbing dan mengontrol tingkah laku manusia selalu timbul dan menjadi persoalan.Pengertian umum (popular) mengenai inner entity ini barangkali ialah jiwa (soul). Menurut teori  “Jiwa“ gejala-gejala kejiwaan (mental phenomena) dianggap sebagai pencerminan  (manifestasi) substansi khusus yang secara khas berbeda dari substansi kebendaan. Dalam pikiran keagamaan jiwa itu dipandang sebagai abadi, bebas dan asalnya suci.
Dengan berkembangnya psikologi yang positifitas pengertian tentang jiwa atau aspek-aspek kejiwaan yang lain seperti mind, ego, will, self itu cenderung untuk ditolak, terlebih di Amerika Serikat. Tetapi akhir-akhir ini diantara ahli-ahli di Amerika Serikat terdapat perhatian terhadap pengertian self itu. W.James dalam bukunya :Principles of Psychology (1890, chapter X ).
Tokoh-tokoh

TEORI BELAJAR HUMANISTIK

Tujuan belajar adalah untuk memanusiakan manusia. Akan berhasil jika sipelajar telah memahami lingkungan dan dirinya sendiri. Teori ini berusaha memahami perilaku belajar dari sudut pandang pelakunya, bukan dari sudut pendang pengamatannya.
Tujuan utama para pendidik ialah membantu siswa untuk mengembangkan dirinya, yaitu membantu masing-masing individu untuk mengenal diri mereka sendiri sebagai manusia yang unik dan membantu dalam mewujudkan potensi-potensi yang ada pada diri mereka. Para ahli humanistik melihat adanya dua bagian pada proses belajar, ialah:
1. Proses pemerolehan informasi baru,
2. Personalisasi informasi ini pada individu
Tokoh-tokohnya:
1. Arthur Combs (1912 – 1399)
Combs memberikan lukisan persepsi diri dan dunia seseorang seperti dua lingkaran (besar dan kecil) yang bertitik pusat satu. Lingkaran kecil (1) adalah gambaran dari persepsi diri dan lingkungan besar (2) adalah persepsi dunia. Main jauh peristiwa-peristiwa itu dari persepsi diri makin berkurang pengaruhnya terhadap perilakunya. Jadi, hal-hal yang mempunyai sedikit hubungan dengan diri, makin mudah hal itu terlupakan.


2. Abraham Maslow
Teori Maslow didasarkan atas asumsi bahwa di dalam diri individu ada dua hal:
1. Suatu usaha yang positif untuk berkembang.
2. Kekuatan untuk melawan atau menolak perkembangan itu.

3. Carl Rogers
Carl Rogers, seorang psikolog humanistik lainnya, mengutarakan sebuah teori yang disebut dengan teori pribadi terpusat. Seperti halnya Freud, Rogers menjelaskan berdasarkan studi kasus klinis untuk mengutarakan teorinya. Dia juga mengembangkan gagasan dari Maslow serta ahli teori lainnya. Dalam pandangan Rogers, konsep diri merupakan hal terpenting dalam kepribadian, dan konsep diri ini juga mencakup kesemua aspek pemikiran, perasaan, serta keyakinan yang disadari oleh manusia dalam konsep dirinya.

Kongruensi dan Inkongruensi
Rogers mengatakan bahwa konsep diri manusia seringkali tidak tepat secara sempurna dengan realitas yang ada. Misalnya, seseorang mungkin memandang dirinya sebagai orang yang sangat jujur namun kenyataannya seringkali berbohong kepada atasannya tentang alasan mengapa dia datang terlambat. Rogers menggunakan istilah inkongruensi (ketidaksejajaran) untuk mengacu pada kesenjangan antara konsep diri dengan realitas. Di sisi lain, kongruensi, merupakan kesesuaian yang sangat akurat antara konsep diri dengan realitas.
Menurut Rogers, para orang tua akan memacu adanya inkongruensi ini ketika mereka memberikan kasih sayang yang kondisional kepada anak-anaknya. Orang tua akan menerima anaknya hanya jika anak tersebut berperilaku sebagaimana mestinya, anak tersebut akan mencegah perbuatan yang dipandang tidak bisa diterima. Disisi lain, jika orang tua menunjukkan kasih sayang yang tidak kondisional, maka si anak akan bisa mengembangkan kongruensinya. Remaja yang orang tuanya memberikan rasa kasih sayang kondisional akan meneruskan kebiasaan ini dalam masa remajanya untuk mengubah perbuatan agar dia bisa diterima di lingkungan.
2.        Konsep Dasar
Teori Humanistik menyatakan bahwa pada dasarnya manusia memiliki kesadaran terhadap dirinya sendiri dan tentang apa yang dilakukannya. Manusia bebas melakukan sesuatu dan memiliki tanggung jawab atas apa yang dilakukannya. Manusia memiliki keunikan yang tidak dimiliki oleh manusia lainnya. Manusia mampu menentukan sendiri apa yang akan dilakukannya. Pandangan Humanistik berfikus pada kondisi manusia (Corey, 2003: 54). Lebih lanjut, Corey (2003: 54) menyatakan bahwa manusia memiliki kesanggupan untuk menyadari dirinya sendiri, suatu kesanggupan yang unik dan nyata yang memungkinkan manusia mampu berpikir dan memutuskan.
3.        Teknik-Teknik yang Digunakan
a.    Client centered: kegiatan berpusat pada klien.
b.    Acceptance: penerimaan pada klien.
c.    Respect: menghargai klien.
d.   Understanding: memahami klien.
e.    Reassuarance: menentramkan hati klien.
f.     Encouredment: memberikan dorongan pada klien.
g.    Limited questioning: pertanyaan terbatas pada klien.
h.    Reflection: pemantulan kembali apa yang diungkapkan klien.
4.        Kelebihan dan Kelemahan
a.    Kelebihan Teori Humanistik
1)               selalu mengedepankan akan hal-hal yang bernuansa demokratis, partisipatif-dialogis dan humanis.
2)               Suasana pembelajaran yang saling menghargai, adanya kebebasan berpendapat, kebebasan mengungkapkan gagasan.
3)               keterlibatan peserta didik dalam berbagai aktivitas di sekolah, dan lebih-lebih adalah kemampuan hidup bersama (komunal-bermasyarakat) diantara peserta didik yang tentunya mempunyai pandangan yang berbeda-beda.
b.    Kekurangan Teori Humanistik :
1)                 Teori humanistik tidak bisa diuji dengan mudah.
2)                 Banyak konsep dalam psikologi humanistik, seperti misalnya orang yang telah berhasil mengaktualisasikan dirinya, ini masih buram dan subjektif.
3)                  Psikologi humanistik mengalami pembiasan terhadap nilai individualistis.
5.        Aplikasi/Penerapan Teori
Aplikasi teori humanistik lebih menunjuk pada ruh atau spirit selama proses pembelajaran yang mewarnai metode-metode yang diterapkan. Peran guru dalam pembelajaran humanistik adalah menjadi fasilitator bagi para siswa sedangkan guru memberikan motivasi, kesadaran mengenai makna belajar dalam kehidupan siswa. Guru memfasilitasi pengalaman belajar kepada siswa dan mendampingi siswa untuk memperoleh tujuan pembelajaran.
Siswa berperan sebagai pelaku utama (student center) yang memaknai proses pengalaman belajarnya sendiri. Diharapkan siswa memahami potensi diri , mengembangkan potensi dirinya secara positif dan meminimalkan potensi diri yang bersifat negatif.
Pembelajaran berdasarkan teori humanisme ini cocok untuk diterpkan pada materi-materi pembelajaran yang bersifat pembentukan kepribadian, hati nurani, perubahan sikap, dan analisis terhadap fenomena sosial.Indikator dari keberhasilan aplikasi ini adalah siswa merasa senang bergairah, berinisiatif dalam belajar dan terjaadi perubahan pola pikir, perilaku dan sikap atas kemauan sendiri.Siswa diharapkan menjadi manusia yang bebas, berani, tidak terikat oleh pendapat orang lain dan mengatur pribadinya sendiri secara bertanggungjawab tanpa mengurangi hak-hak orang lain atau melanggar aturan , norma , disiplin atau etika yang berlaku.
Psikologi humanisme memberi perhatian atas guru sebagai fasilitator.
1. Fasilitator sebaiknya memberi perhatian kepada penciptaan suasana awal, situasi kelompok, atau pengalaman kelas
2. Fasilitator membantu untuk memperoleh dan memperjelas tujuan-tujuan perorangan di dalam kelas dan juga tujuan-tujuan kelompok yang bersifat umum.
3. Dia mempercayai adanya keinginan dari masing-masing siswa untuk melaksanakan tujuan-tujuan yang bermakna bagi dirinya, sebagai kekuatan pendorong, yang tersembunyi di dalam belajar yang bermakna tadi.
4.  Dia mencoba mengatur dan menyediakan sumber-sumber untuk belajar yang paling luas dan mudah dimanfaatkan para siswa untuk membantu mencapai tujuan mereka.
5. Dia menempatkan dirinya sendiri sebagai suatu sumber yang fleksibel untuk dapat dimanfaatkan oleh kelompok.
6. Di dalam menanggapi ungkapan-ungkapan di dalam kelompok kelas, dan menerima baik isi yang bersifat intelektual dan sikap-sikap perasaan dan mencoba untuk menanggapi dengan cara yang sesuai, baik bagi individual ataupun bagi kelompok
7. Bilamana cuaca penerima kelas telah mantap, fasilitator berangsur-sngsur dapat berperanan sebagai seorang siswa yang turut berpartisipasi, seorang anggota kelompok, dan turut menyatakan pendangannya sebagai seorang individu, seperti siswa yang lain.
8. Dia mengambil prakarsa untuk ikut serta dalam kelompok, perasaannya dan juga pikirannya dengan tidak menuntut dan juga tidak memaksakan, tetapi sebagai suatu andil secara pribadi yang boleh saja digunakan atau ditolak oleh siswa.


Daftar Pustaka


Feist, Jess dan Gregory J. Feist. 2008. Theories of Personality. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Gibson, Robert L. dan Marianne H. Mitchell. 2011. Bimbingan dan Konseling. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Corey, Gerald. 2003. Teori dan Praktek Konseling dan Psikoterapi. Bandung: PT Refika Aditama.
Willis, Sofyan S. 2004. Konseling: Teori dan Praktek. Bandung: ALFABETA.
Sugihartono,dkk. (2006). Psikologi Pendidikan.Yoyakarta: FIP UNY
http://resources.unpad.ac.id/unpad-content/uploads/publikasidosen/mengenal%20tipe%20kepribadian%20dan%20kesadaran%20manusia.pdf
http://rohadieducation.wordpress.com/2007/06/16/perilaku-dari-sudut-pandang-psikoanalisa/
http://sastra-broto.blogspot.com/2010/03/primer-of-freudian-psychology-calvin-s.html

Rabu, 15 Mei 2013

MEMELIHARA DAN MEMPERTAHANKAN TINGKAH LAKU DALAM BERBAGAI SETTING : KARIR






A.       Latar Belakang Masalah
 Perilaku seseorang terbentuk mulai pada saat individu lahir ke dalam dunia ini, kemudian terus berkembang seiring dengan berjalannya roda kehidupan seseorang, dan masa yang terbaik untuk membentuk karakter seseorang adalah pada masa pertumbuhan seseorang, mulai dari masih di dalam kandungan, masa balita, kemudian masa anak-anak, sampai seseorang beranjak dari remaja menjadi dewasa adalah masa yang tepat untuk membentuk karakter/ tingkah laku seseorang.
Perilaku dapat berubah sewaktu-waktu. Sosial individu, dalam hal ini salah satunya factor lingkungan individu sangat berpengaruh terhadap perubahan perilaku yang telah dibentuk. Lingkungan dapat mengubah suatu perilaku menjadi baik atau bahkan sebaliknya. Untuk mencegah adanya perubahan kearah yang negative, maka seorang individu perlu memahami tentang bagaimana cara memelihara dan mempertahankan perilakunya ditengah kehidupan yang terus berkembang.  
Dari uraian diatas penulis tertarik untuk membuat makalah dengan menarik  judul “ Memelihara dan Mempertahankan Perilaku dalam Seting Karir”




PEMBAHASAN
A.    Pengertian Karir
Menurut Gibson dkk. (1995: 305) karir adalah rangkaian sikap dan perilaku yang berkaitan dengan pengalaman dan aktivitas kerja selama rentang waktu kehidupan seseorang dan rangkaian aktivitas kerja yang terus berkelanjutan. Pandangan yang lebih luas daripada karir adalah sebagai suatu rangkaian atas sikap dan perilaku yang berkaitan dengan aktifitas pekerjaan dan pengalaman sepanjang kehidupan seseorang. Dengan demikian karir seorang individu melibatkan rangkaian pilihan dari berbagai macam kesempatan. Jika ditinjau dari sudut pandang organisasi, karir melibatkan proses dimana organisasi memperbaharui dirinya sendiri untuk menuju efektivitas karir yang merupakan batas dimana rangkaian dari sikap karir dan perilaku dapat memuaskan seorang individu.
Menurut Greenhaus (1987: 5) yang dikutip oleh Irianto (2001: 93) terdapat pendekatan untuk memahami makna karir, yaitu : pendekatan yang memandang karir sebagai pemilikan (a property) dan/atau dari occupation atau organisasi. Pendekatan ini memandang bahwa karir sebagai jalur mobilitas di dalam organisasi yang tunggal seperti jalur karir di dalam fungsi marketing, yaitu menjadi sales representative, manajer produk, manajer marketing distrik, manajer marketing regional, dan wakil presiden divisional marketing dengan berbagai macam tugas dan fungsi pada setiap jabatan.
Berdasarkan pendekatan tersebut definisi karir adalah sebagai pola pengalaman berdasarkan pekerjaan (work-related experiences) yang merentang sepanjang perjalanan pekerjaan yang dialami oleh setiap individu/pegawai dan secara luas dapat dirinci ke dalam obyective events. Salah satu contoh untuk menjelaskannya melalui serangkaian posisi jabatan/pekerjaan, tugas atau kegiatan pekerjaan, dan keputusan yang berkaitan dengan pekerjaan (work-related decisions). Tidak hanya itu saja, juga mengenai interpretasi subyektif tentang peristiwa yang berkaitan dengan pekerjaan (workrelated events) baik pada masa lalu, kini dan mendatang seperti aspirasi pekerjaan, harapan, nilai, kebutuhan dan perasaan tentang pengalaman pekerjaan tertentu.
B.      Konsep Dasar Perilaku
Dalam kamus bahasa Indonesia Perilaku merupakan tanggapan atau reaksi individu terhadap rangsangan atau lingkungan. Notoatmodjo, (2003) mengemukakan bahwa perilaku manusia adalah semua kegiatan atau aktivitas manusia, baik yang diamati langsung, maupun yang tidak dapat diamati oleh pihak luar. Perilaku seseorang terbentuk mulai pada saat individu lahir ke dalam dunia ini, kemudian terus berkembang seiring dengan berjalannya roda kehidupan seseorang, dan masa yang terbaik untuk membentuk karakter seseorang adalah pada masa pertumbuhan seseorang, mulai dari masih di dalam kandungan, masa balita, kemudian masa anak-anak, sampai seseorang beranjak dari remaja menjadi dewasa adalah masa yang tepat untuk membentuk karakter/ tingkah laku seseorang.
Namun demikian pada hakikatnya perilaku bukanlah suatu pembawaan yang ada begitu saja, namun merupakan suatu proses pembelajaran. Pembentukan suatu perilaku dapat dikategorikan menjadi beberapa cara :
1.      Kondisioning atau Kebiasaan
Salah satu cara pembentukan perilaku dapat ditempuh dengan membiasakan untuk berperilaku seperti yang diharapakan. Cara ini didasarkan pada teori belajar kondisioning baik yang dikemukakan Pavlov maupun oleh Skinner dan Thorndike.
2.      Pengertian (insight)
Cara  ini didasarkan atas teori belajar kognitif, yaitu belajar dengan disertai adanya pengertian. Misal datang kuliah jangan sampai terlambat, karena hal tersebut dapat mengganggu teman-teman yang lain.

3.      Menggunakan Model
Cara ini didasarkan pada peniruan sejumlah tingkah laku dari seorang individu yang dijadikan model.
Harlod Kelley dalam teorinya menjelaskan tentang bagaimana orang menarik kesimpulan tentang “apa yang menjadi sebab” apa yang menjadi dasar seseorang melakukan suatu perbuatan atau memutuskan untuk berbuat dengan cara-cara tertentu. Menurut Kelley ada tiga factor yang menjadi dasar pertimbangan orang untuk menarik kesimpulan apakah suatu perbuatan atau tindakan itu disebabkan oleh sifat dari dalam diri (disposisi) ataukah disebabkan oleh factor di luar diri. Ketiga factor dasar pertimbangan tersebut adalah :
1.      Konsensus
Konsensus adalah situasi yang membedakan perilaku seseorang dengan perilaku orang lainnya dalam menghadapi situasi yang sama. Bila seseorang berperilaku sama dengan kebanyakan orang lain, maka perilaku orang tersebut memiliki konsesnsus yang tinggi. Tetapi bila perilaku seseorang tersebut berbeda dengan perilaku kebanyakan orang maka berarti perilaku tersebut memiliki consensus yang rendah.
2.      Konsistensi
Konsistensi adalah suatu kondisi yang menujukkan sejauh mana perilaku seseorang konsisten (ajeg) dari satu situasi ke situasi yang lain. Semakin konsisten perilakuXseseorangXdariXhariXkeXhariXmakaXsemakinXtinggiXkonsistensi perilakuXorangXtersebut.
3. Keunikan
Keunikan menujukkan sejauhmana seseorang bereaksi dengan cara yang sama terhadap stimulus atau peristiwa yang berbeda.

Kovariasi antar ke tiga factor di atas akan menentukan apakah perilaku seseorang akan diatribusikan sebagai atribusi internal (disebabkan oleh factor dari dalam diri, yakni sifat/dispoisi kepribadian) ataukah disebabkan factor di luar diri atauXfactorXsituasi. Perilaku akan diatribusikan sebagai atribusi internal bila perilaku tersebut memiliki consensus yang rendah, konsistensi tinggi dan keunikan yang rendah
C.        Memelihara dan Mempertahankan Perilaku dalam Seting Karir
Terdapat beberapa hal utama yang dapat mempengaruhi tingkah laku seseorang diantaranya:
1. Lingkungan
           Yang disebut dengan lingkungan adalah mulai dari tempat tinggal kita (rumah), sekolah, kantor sebagai tempat kerja kita sehari-hari, media massa yang kita tonton/dengar/baca setiap hari, latar belakang kebudayaan, latar belakang agama, latar belakang tradisi, latar belakang kepercayaan, lingkungan sosial serta lingkungan politik. Di dalam lingkungan yang positif, output yang dihasilkan dari performa seseorang akan meningkat, sebaliknya di dalam lingkungan yang negatif, performa yang pada dasarnya sudah baik justru akan menghasilkan output yang kian menurun.
2. Pengalaman
         Kebiasaan kita dalam bertingkah laku berubah seiring dengan pengalaman kita terhadap orang lain dan peristiwa yang terjadi di dalam hidup kita. Jika kita memiliki pengalaman yang positif dengan seseorang, maka secara natural kita akan bersikap positif pula terhadap orang tersebut, demikian juga sebaliknya.
3. Pendidikan
           Pendidikan yang dimaksudkan di sini mencakup baik pendidikan formal maupun pendidikan informal, tidak sekedar jenjang akademik. Sering kali kita tidak menyadari bahwa kebutuhan kita terhadap informasi terpenuhi akan tetapi sangat kekurangan dalam hal pengetahuan dan kebijaksanaan. Pendidikan seharusnya tidak hanya mengajarkan kita bagaimana agar dapat tetap hidup tetapi juga bagaimana kita seharusnya menjalani hidup.
Perilaku dapat berubah sewaktu-waktu. Sosial individu, dalam hal ini yang telah dijelaskan diatas salah satunya factor lingkungan individu sangat berpengaruh terhadap perubahan perilaku yang telah dibentuk. Lingkungan dapat mengubah suatu perilaku menjadi baik atau bahkan sebaliknya. Untuk mencegah adanya perubahan kearah yang negative, maka seorang individu perlu memahami tentang bagaimana cara memelihara dan mempertahankan perilakunya ditengah kehidupan yang terus berkembang.  
C.1 Memelihara dan Mempertahankan Perilaku
Pemeliharaan perilaku selalu berkaitan dengan perilaku yang diharapkan telah terbentuk. Perilaku manusia merupakan suatu proses belajar yang terus berkembang. Ketika suatu proses belajar dapat dimanifestasikan oleh individu, maka suatu perilaku terbentuk. Terbentuknya suatu perilaku manusia, bukanlah suatu ketetapan akan seperti itu seterusnya, namun akan mengalami perubahan. Perubahan-perubahan dapat terjadi dan salah satunya disebabkan oleh adanya pengaruh karir. Pemeliharaan perilaku bertujuan agar perilaku yang sudah terbentuk tidak hilang atau berkurang frekuensi, intensitas dan lamanya.
Pemeliharaan perilaku dilakukan dengan mengatur jadwal dan kualitas pemberian penguatan (reinforcement). Jadwal pemberian pengukuh ialah aturan yang dianut oleh pemberi pengukuh dalam menentukan diantara sekalian kali perilaku timbul, kapan atau yang mana yang akan mendapat pengukuh. Seperti yang telah dikemukan pada pembahasan –pembahasan kelompok terdahulu, bahwa ada beberapa macam jadwal, yaitu jadwal pengukuhan secara terus menerus ( Continous reinforcement schedule atau CRS ) dan Jadwal pengukuhan berselang atau pengukuhan sebagian ( intermittent reinforcement schedule ). Efek kedua jadwal ini berbeda. Jadwal pengukuhan terutama memperkuat perilaku dengan cepat, tetapi perilaku akan cepat pula terhapus bila pemberian dihentikan. Jadwal pengukuhan berselang, tergantung pada pengaturan jangka berselangnya, dapat cepat atau lambat memperkuat perilaku. Tetapi jadwal pengukuhan berselang cenderung lebih memelihara dan mempertahakankan perilaku yang dikukuhkan. Ketepatan waktu dalam memberikan penguatan akan mampu memelihara perilaku. Sealin itu, Kualitas penguatan yang diberikan kepada klien akan mampu memelihara perilaku.
Cara membentuk atau mempertahankan tingkah laku yang positif yang pertama adalah kepekaan terhadap hal-hal mendasar yang dapat membentuk tingkah laku yang positif, kemudian seseorang juga harus memiliki keinginan untuk menjadi seseorang yang positif, dan meningkatkan disiplin dan dedikasi untuk mempraktekkan hal-hal tersebut di dalam kehidupan sehari-hari.
C.2 Bentuk Sikap dan Perilaku Seseorang dalam Konteks Karir
  Berbagai bentuk dan jenis perilaku sosial seseorang pada dasarnya merupakan karakter atau ciri kepribadian yang  dapat  teramati ketika  seseorang berinteraksi dengan orang lain.  Berikut ini adalah Sikap seseorang dalam konteks karir:
1)   Mampu menilai diri sendiri secara realisitik; mampu menilai diri apa adanya tentang kelebihan dan kekurangannya, secara fisik, pengetahuan, keterampilan dan sebagainya.
2)   Mampu menilai situasi secara realistik; dapat menghadapi situasi atau kondisi kehidupan yang dialaminya secara realistik dan mau menerima secara wajar, tidak mengharapkan kondisi kehidupan itu sebagai sesuatu yang sempurna.
3)   Mampu menilai prestasi yang diperoleh secara realistik; dapat menilai keberhasilan yang diperolehnya dan meraksinya secara rasional, tidak menjadi sombong, angkuh atau mengalami superiority complex, apabila memperoleh prestasi yang tinggi atau kesuksesan hidup. Jika mengalami kegagalan, dia tidak mereaksinya dengan frustrasi, tetapi dengan sikap optimistik.
4)   Menerima tanggung jawab; dia mempunyai keyakinan terhadap kemampuannya untuk mengatasi masalah-masalah kehidupan yang dihadapinya.
5)   Kemandirian; memiliki sifat mandiri dalam cara berfikir, dan bertindak, mampu mengambil keputusan, mengarahkan dan mengembangkan diri serta menyesuaikan diri dengan norma yang berlaku di lingkungannya.
6)   Dapat mengontrol emosi; merasa nyaman dengan emosinya, dapat menghadapi situasi frustrasi, depresi, atau stress secara positif atau konstruktif , tidak destruktif (merusak).
7)   Berorientasi tujuan; dapat merumuskan tujuan-tujuan dalam setiap aktivitas dan kehidupannya berdasarkan pertimbangan secara matang (rasional), tidak atas dasar paksaan dari luar, dan berupaya mencapai tujuan dengan cara mengembangkan kepribadian (wawasan), pengetahuan dan keterampilan.
8)   Berorientasi keluar (ekstrovert); bersifat respek, empati terhadap orang lain, memiliki kepedulian terhadap situasi atau masalah-masalah lingkungannya dan bersifat fleksibel dalam berfikir, menghargai dan menilai orang lain seperti dirinya, merasa nyaman dan terbuka terhadap orang lain, tidak membiarkan dirinya dimanfaatkan untuk menjadi korban orang lain dan mengorbankan orang lain, karena kekecewaan dirinya.
9)   Penerimaan sosial; mau berpartsipasi aktif dalam kegiatan sosial dan memiliki sikap bersahabat dalam berhubungan dengan orang lain.
10)  Memiliki filsafat hidup; mengarahkan hidupnya berdasarkan filsafat hidup yang berakar dari keyakinan agama yang dianutnya.
11)  Berbahagia; situasi kehidupannya diwarnai kebahagiaan, yang didukung oleh faktor-faktor achievement (prestasi), acceptance (penerimaan), dan affection (kasih sayang).

C.3  Merubah Perilaku dalam Karir
  Jika seorang individu memiliki sikap negatif terhadap satu atau beberapa aspek dalam kehidupan organisasi atau pekerjaan, seorang pimpinan atau kepala hendaknya  berusaha untuk merubah sikap negatif tersebut menjadi sikap yang positif. Meskipun terkadang individu  cenderung resisten terhadap perubahan. Oleh karena itu sebelum melakukan perubahan sikap individu harus terlebih dahulu diketahui bagaimana cara terbaik untuk melakukan perubahan dan kemungkinan tingkat keberhasilannya. Perubahan sikap dapat dilakukan dengan menambah, menghilangkan atau memodifikasi keyakinan atau komponen afektif lainnya. Diantaranya adalah:
  1. Memberi informasi baru.
Hal ini dilakukan semisal ketika pegawai atau pekerja tidak tau mengenai suatu informasi yang berkaitan dengan pekerjaan atau karirnya, sehingga perilakunya cenderung negative maka pemimpin atau kepala dapat memberikan suatu informasi yang berkaitan dengan pekerjaan atau karir tersebut untuk merubah perilaku pegawainya menjadi postif.
  1. Menambah atau mengurangi rasa takut.
Menambah rasa takut dapat berbentuk seperti halnya sebuah ancaman untuk menakut- nakuti individu agar tidak melakukan perbuatan negative tersebut, sedangkan mengurangi rasa takut dapat berwujud seperti halnya ketika individu merasakan sebuah ketakutan dalam melakukan suatu perbuatan maka dapat dikurangi rasa takut tersebut dengan memberikan sebuah pengertian atau nasihat dan masukan.
  1. Menambah dan  mengurangi keraguan.
Menambah dan mengurangi keraguan dilakukan apabila individu mengalami keraguan yang berpengaruh pada perilakunya maka dapat ditambah ataupun dikurangi keraguan tersebut guna merubah perilaku menjadi lebih baik.

  1. Partisipasi dalam diskusi kelompok.
Partisipasi dalam diskusi kelompok sangat penting dalam memecahkan sebuah permasalahan yang terjadi pada karir dan sebagainya. Sehingga dengan terpecahkannya sebuah masalah perilaku yang tadinya salah menjadi benar.
Seorang pemimpin atau kepala  perlu memahami dengan baik sikap kerja bawahannya mengingat sikap positif atau sebaliknya sikap negatif tentu akan berpengaruh terhadap kinerja organisasi. Pada bagian ini akan diuraikan tiga bentuk sikap kerja yang diyakini berpengaruh terhadap kinerja yaitu: Kepuasan kerja, komitmen organisasi dan keterlibatan kerja.
a.       Kepuasan Kerja
Kinerja yang tinggi tidak selalu diikuti oleh kepuasan kerja karyawan. Demikian juga kepuasan kerja yang tinggi tidak selalu menyebabkan kinerja organisasi tinggi. Yang paling ideal adalah kepuasan kerja kerja karyawan diikuti oleh kinerja organisasi. Inilah harapan para Pempinan atau kepala pada umumnya. Oleh karena itu berbagai macam studi dilakukan untuk menciptakan kondisi ideal tersebut. Kepuasan kerja itu sendiri dalam beberapa hal dipengaruhi oleh sikap kerja karyawan dan selanjutnya berdampak pada keterlibatan kerja, komitmen organisasi dan tingkat kesehatan fisik dan mental karyawan. Sebaliknya ketidakpuasan dalam bekerja bisa meningkatkan tingkat absensi, kegersangan organisasi (organizational drift), iklim kerja yang tidak kondusif, dan persoalan-persoalan ketenagkerjaan lainnya. Oleh karena itu dalam praktik para manajer biasanya secara reguler melakukan survei untuk mengetahui sikap karyawan dan dampaknya terhadap kepuasan kerja.
b. Komitmen Organisasi
Komitmen organisasi adalah nilai-nilai personal yang kadang-kadang disebut sebagai loyalitas atau komitmen terhadap perusahaan. Yang dimaksud dengan komitmen organisasi adalah tingkat identifikasi diri dan keterlibatan karyawan terhadap organisasi. Ada tiga karakteristik penting berkaitan dengan komitmen organisasi, yaitu (1) keyakinan yang sangat kuat terhadap nilai-nilai dan tujuan organisasi, (2) mau berupaya lebih keras demi organisasi, dan (3) mempunyai keinginan yang kuat untuk tetap menjadi bagian dari organisasi. Ketiga karakteristik ini menunujukkan bahwa komitmen organisasi bukan sekedar loyal kepada organisasi secaa pasif melainkan berpartisipasi aktif dengan memberi kontribusi personal agar organisasi berhasil.
Komitmen karyawan terhadap organisasi, disebabkan karena beberapa factor berikut ini.
1.      Factor personal. Karyawan yang lebih tua biasanya memiliki komitmen yang lebih tinggi dibanding karyawan muda. Demikain juga karyawan perempuan lebih berkomitmen dibandingkan karyawan laki-laki. Sedangkan karyawan berpendidikan rendah akan menunjukkan komitmennya dibandingkan karyawan berpendidikan lebih tinggi.
2.      Karakteristik yang terkait dengan peran karyawan. Komitmen organisasi akan lebih kuat jika konflik peran dan ambigu relatif lebih kecil.
3.      Karakteristik structural. Organisasi yang terdesentralisasi menghasilkan komitmen yang lebih tinggi dibandingkan organisasi yang sentralistik. Dengan desentralisasi organisasi berarti karyawan bisa berpartisipasi langsung dalam mengambil keputusan yang berkaitan pekerjaannya.
4.      Pengalaman kerja. Karyawan dengan pengalaman kerja yang cukup lama dan lebih-lebih karyawan tersebut merasa memperoleh keuntungan dari perusahaan cenderung memiliki komitmen yang lebih tinggi.

c.   Keterlibatan Kerja
Keterlibatan kerja bisa disebut sebagai nilai-nilai kerja. Secara umum keterlibatan kerja didefinisikan sebagai kekuatan hubungan antara konsep diri dan kerja individual seseorang. Seseorang dikatakan keterlibatannya dalam kerja sangat tinggi jika: (1) berpartisipasi secara aktif. (2) memandang kerja sebagai bagian dari hidup yang sangat penting dan (3) melihat pekerjaan dan seberapa baik ia bekerja sebagai bagian penting dari konsep diri mereka. Seseorang yang keterlibatannya dalam pekerjaan sangat tinggi cenderung menyatu dengan pekerjaan – memiliki ego yang tinggi terhadap pekerjaan. Ia bisa menghabiskan waktu berjam-jam untuk bekerja dan manakala jauh dari tempat kerja ia selalu memikirkannya. Jika gagal mengerjakan proyek ia merasa frustasi. Jika hasil kerjanya jelek ia merasa malu. Bagi orang-orang semacam ini, pekerjaan adalah aspek penting dalam hidupnya. Job involvement merupakan hasil dari kombinasi antara karakteristik seseorang dengan factor-faktor organisasi.
Seseorang akan menunjukkan keterlibatan kerja yang lebih tinggi jika orang tersebut berkomitmen terhadap etika kerja, atau jika ia memiliki konsep diri yang sejalan dengan kinerjanya. Keterlibatan kerja yang lebih tinggi juga terkait dengan sejauh mana pekerjaan tersebut memberi kesempatan bagi dirinya untuk berpartisipasi dalam membuat keputusan penting tentang pekerjaan tersebut. Akibatnya, keterlibatan kerja merupakan hasil dari kombinasi antara orientasi nilai Si pekerja dengan karakteristik pekerjaan yang diharapkan yang memungkin ia terlibat dalam pekerjaan.






PENUTUP
A.          Simpulan
1.      Perilaku bukanlah suatu pembawaan yang ada begitu saja, namun merupakan suatu proses pembelajaran
2.      karir seorang individu melibatkan rangkaian pilihan dari berbagai macam kesempatan. Jika ditinjau dari sudut pandang organisasi, karir melibatkan proses dimana organisasi memperbaharui dirinya sendiri untuk menuju efektivitas karir yang merupakan batas dimana rangkaiandari sikap karir dan perilaku dapat memuaskan seorang individu.
3.      Cara membentuk atau mempertahankan tingkah laku yang positif yang pertama adalah kepekaan terhadap hal-hal mendasar yang dapat membentuk tingkah laku yang positif, kemudian seseorang juga harus memiliki keinginan untuk menjadi seseorang yang positif, dan meningkatkan disiplin dan dedikasi untuk mempraktekkan hal-hal tersebut di dalam kehidupan sehari-hari.





                                                             



DAFTAR PUSTAKA
Poerwadarminta. 1984. Kamus Umum Bahasa Indonesia (Cetakan ke-7). Jakarta: PN Balai Pustaka
http://ekonomi.kompasiana.com/manajemen/2011/07/06/definisi-karier/