Halaman

Rabu, 15 Mei 2013

MEMELIHARA DAN MEMPERTAHANKAN TINGKAH LAKU DALAM BERBAGAI SETTING : KARIR






A.       Latar Belakang Masalah
 Perilaku seseorang terbentuk mulai pada saat individu lahir ke dalam dunia ini, kemudian terus berkembang seiring dengan berjalannya roda kehidupan seseorang, dan masa yang terbaik untuk membentuk karakter seseorang adalah pada masa pertumbuhan seseorang, mulai dari masih di dalam kandungan, masa balita, kemudian masa anak-anak, sampai seseorang beranjak dari remaja menjadi dewasa adalah masa yang tepat untuk membentuk karakter/ tingkah laku seseorang.
Perilaku dapat berubah sewaktu-waktu. Sosial individu, dalam hal ini salah satunya factor lingkungan individu sangat berpengaruh terhadap perubahan perilaku yang telah dibentuk. Lingkungan dapat mengubah suatu perilaku menjadi baik atau bahkan sebaliknya. Untuk mencegah adanya perubahan kearah yang negative, maka seorang individu perlu memahami tentang bagaimana cara memelihara dan mempertahankan perilakunya ditengah kehidupan yang terus berkembang.  
Dari uraian diatas penulis tertarik untuk membuat makalah dengan menarik  judul “ Memelihara dan Mempertahankan Perilaku dalam Seting Karir”




PEMBAHASAN
A.    Pengertian Karir
Menurut Gibson dkk. (1995: 305) karir adalah rangkaian sikap dan perilaku yang berkaitan dengan pengalaman dan aktivitas kerja selama rentang waktu kehidupan seseorang dan rangkaian aktivitas kerja yang terus berkelanjutan. Pandangan yang lebih luas daripada karir adalah sebagai suatu rangkaian atas sikap dan perilaku yang berkaitan dengan aktifitas pekerjaan dan pengalaman sepanjang kehidupan seseorang. Dengan demikian karir seorang individu melibatkan rangkaian pilihan dari berbagai macam kesempatan. Jika ditinjau dari sudut pandang organisasi, karir melibatkan proses dimana organisasi memperbaharui dirinya sendiri untuk menuju efektivitas karir yang merupakan batas dimana rangkaian dari sikap karir dan perilaku dapat memuaskan seorang individu.
Menurut Greenhaus (1987: 5) yang dikutip oleh Irianto (2001: 93) terdapat pendekatan untuk memahami makna karir, yaitu : pendekatan yang memandang karir sebagai pemilikan (a property) dan/atau dari occupation atau organisasi. Pendekatan ini memandang bahwa karir sebagai jalur mobilitas di dalam organisasi yang tunggal seperti jalur karir di dalam fungsi marketing, yaitu menjadi sales representative, manajer produk, manajer marketing distrik, manajer marketing regional, dan wakil presiden divisional marketing dengan berbagai macam tugas dan fungsi pada setiap jabatan.
Berdasarkan pendekatan tersebut definisi karir adalah sebagai pola pengalaman berdasarkan pekerjaan (work-related experiences) yang merentang sepanjang perjalanan pekerjaan yang dialami oleh setiap individu/pegawai dan secara luas dapat dirinci ke dalam obyective events. Salah satu contoh untuk menjelaskannya melalui serangkaian posisi jabatan/pekerjaan, tugas atau kegiatan pekerjaan, dan keputusan yang berkaitan dengan pekerjaan (work-related decisions). Tidak hanya itu saja, juga mengenai interpretasi subyektif tentang peristiwa yang berkaitan dengan pekerjaan (workrelated events) baik pada masa lalu, kini dan mendatang seperti aspirasi pekerjaan, harapan, nilai, kebutuhan dan perasaan tentang pengalaman pekerjaan tertentu.
B.      Konsep Dasar Perilaku
Dalam kamus bahasa Indonesia Perilaku merupakan tanggapan atau reaksi individu terhadap rangsangan atau lingkungan. Notoatmodjo, (2003) mengemukakan bahwa perilaku manusia adalah semua kegiatan atau aktivitas manusia, baik yang diamati langsung, maupun yang tidak dapat diamati oleh pihak luar. Perilaku seseorang terbentuk mulai pada saat individu lahir ke dalam dunia ini, kemudian terus berkembang seiring dengan berjalannya roda kehidupan seseorang, dan masa yang terbaik untuk membentuk karakter seseorang adalah pada masa pertumbuhan seseorang, mulai dari masih di dalam kandungan, masa balita, kemudian masa anak-anak, sampai seseorang beranjak dari remaja menjadi dewasa adalah masa yang tepat untuk membentuk karakter/ tingkah laku seseorang.
Namun demikian pada hakikatnya perilaku bukanlah suatu pembawaan yang ada begitu saja, namun merupakan suatu proses pembelajaran. Pembentukan suatu perilaku dapat dikategorikan menjadi beberapa cara :
1.      Kondisioning atau Kebiasaan
Salah satu cara pembentukan perilaku dapat ditempuh dengan membiasakan untuk berperilaku seperti yang diharapakan. Cara ini didasarkan pada teori belajar kondisioning baik yang dikemukakan Pavlov maupun oleh Skinner dan Thorndike.
2.      Pengertian (insight)
Cara  ini didasarkan atas teori belajar kognitif, yaitu belajar dengan disertai adanya pengertian. Misal datang kuliah jangan sampai terlambat, karena hal tersebut dapat mengganggu teman-teman yang lain.

3.      Menggunakan Model
Cara ini didasarkan pada peniruan sejumlah tingkah laku dari seorang individu yang dijadikan model.
Harlod Kelley dalam teorinya menjelaskan tentang bagaimana orang menarik kesimpulan tentang “apa yang menjadi sebab” apa yang menjadi dasar seseorang melakukan suatu perbuatan atau memutuskan untuk berbuat dengan cara-cara tertentu. Menurut Kelley ada tiga factor yang menjadi dasar pertimbangan orang untuk menarik kesimpulan apakah suatu perbuatan atau tindakan itu disebabkan oleh sifat dari dalam diri (disposisi) ataukah disebabkan oleh factor di luar diri. Ketiga factor dasar pertimbangan tersebut adalah :
1.      Konsensus
Konsensus adalah situasi yang membedakan perilaku seseorang dengan perilaku orang lainnya dalam menghadapi situasi yang sama. Bila seseorang berperilaku sama dengan kebanyakan orang lain, maka perilaku orang tersebut memiliki konsesnsus yang tinggi. Tetapi bila perilaku seseorang tersebut berbeda dengan perilaku kebanyakan orang maka berarti perilaku tersebut memiliki consensus yang rendah.
2.      Konsistensi
Konsistensi adalah suatu kondisi yang menujukkan sejauh mana perilaku seseorang konsisten (ajeg) dari satu situasi ke situasi yang lain. Semakin konsisten perilakuXseseorangXdariXhariXkeXhariXmakaXsemakinXtinggiXkonsistensi perilakuXorangXtersebut.
3. Keunikan
Keunikan menujukkan sejauhmana seseorang bereaksi dengan cara yang sama terhadap stimulus atau peristiwa yang berbeda.

Kovariasi antar ke tiga factor di atas akan menentukan apakah perilaku seseorang akan diatribusikan sebagai atribusi internal (disebabkan oleh factor dari dalam diri, yakni sifat/dispoisi kepribadian) ataukah disebabkan factor di luar diri atauXfactorXsituasi. Perilaku akan diatribusikan sebagai atribusi internal bila perilaku tersebut memiliki consensus yang rendah, konsistensi tinggi dan keunikan yang rendah
C.        Memelihara dan Mempertahankan Perilaku dalam Seting Karir
Terdapat beberapa hal utama yang dapat mempengaruhi tingkah laku seseorang diantaranya:
1. Lingkungan
           Yang disebut dengan lingkungan adalah mulai dari tempat tinggal kita (rumah), sekolah, kantor sebagai tempat kerja kita sehari-hari, media massa yang kita tonton/dengar/baca setiap hari, latar belakang kebudayaan, latar belakang agama, latar belakang tradisi, latar belakang kepercayaan, lingkungan sosial serta lingkungan politik. Di dalam lingkungan yang positif, output yang dihasilkan dari performa seseorang akan meningkat, sebaliknya di dalam lingkungan yang negatif, performa yang pada dasarnya sudah baik justru akan menghasilkan output yang kian menurun.
2. Pengalaman
         Kebiasaan kita dalam bertingkah laku berubah seiring dengan pengalaman kita terhadap orang lain dan peristiwa yang terjadi di dalam hidup kita. Jika kita memiliki pengalaman yang positif dengan seseorang, maka secara natural kita akan bersikap positif pula terhadap orang tersebut, demikian juga sebaliknya.
3. Pendidikan
           Pendidikan yang dimaksudkan di sini mencakup baik pendidikan formal maupun pendidikan informal, tidak sekedar jenjang akademik. Sering kali kita tidak menyadari bahwa kebutuhan kita terhadap informasi terpenuhi akan tetapi sangat kekurangan dalam hal pengetahuan dan kebijaksanaan. Pendidikan seharusnya tidak hanya mengajarkan kita bagaimana agar dapat tetap hidup tetapi juga bagaimana kita seharusnya menjalani hidup.
Perilaku dapat berubah sewaktu-waktu. Sosial individu, dalam hal ini yang telah dijelaskan diatas salah satunya factor lingkungan individu sangat berpengaruh terhadap perubahan perilaku yang telah dibentuk. Lingkungan dapat mengubah suatu perilaku menjadi baik atau bahkan sebaliknya. Untuk mencegah adanya perubahan kearah yang negative, maka seorang individu perlu memahami tentang bagaimana cara memelihara dan mempertahankan perilakunya ditengah kehidupan yang terus berkembang.  
C.1 Memelihara dan Mempertahankan Perilaku
Pemeliharaan perilaku selalu berkaitan dengan perilaku yang diharapkan telah terbentuk. Perilaku manusia merupakan suatu proses belajar yang terus berkembang. Ketika suatu proses belajar dapat dimanifestasikan oleh individu, maka suatu perilaku terbentuk. Terbentuknya suatu perilaku manusia, bukanlah suatu ketetapan akan seperti itu seterusnya, namun akan mengalami perubahan. Perubahan-perubahan dapat terjadi dan salah satunya disebabkan oleh adanya pengaruh karir. Pemeliharaan perilaku bertujuan agar perilaku yang sudah terbentuk tidak hilang atau berkurang frekuensi, intensitas dan lamanya.
Pemeliharaan perilaku dilakukan dengan mengatur jadwal dan kualitas pemberian penguatan (reinforcement). Jadwal pemberian pengukuh ialah aturan yang dianut oleh pemberi pengukuh dalam menentukan diantara sekalian kali perilaku timbul, kapan atau yang mana yang akan mendapat pengukuh. Seperti yang telah dikemukan pada pembahasan –pembahasan kelompok terdahulu, bahwa ada beberapa macam jadwal, yaitu jadwal pengukuhan secara terus menerus ( Continous reinforcement schedule atau CRS ) dan Jadwal pengukuhan berselang atau pengukuhan sebagian ( intermittent reinforcement schedule ). Efek kedua jadwal ini berbeda. Jadwal pengukuhan terutama memperkuat perilaku dengan cepat, tetapi perilaku akan cepat pula terhapus bila pemberian dihentikan. Jadwal pengukuhan berselang, tergantung pada pengaturan jangka berselangnya, dapat cepat atau lambat memperkuat perilaku. Tetapi jadwal pengukuhan berselang cenderung lebih memelihara dan mempertahakankan perilaku yang dikukuhkan. Ketepatan waktu dalam memberikan penguatan akan mampu memelihara perilaku. Sealin itu, Kualitas penguatan yang diberikan kepada klien akan mampu memelihara perilaku.
Cara membentuk atau mempertahankan tingkah laku yang positif yang pertama adalah kepekaan terhadap hal-hal mendasar yang dapat membentuk tingkah laku yang positif, kemudian seseorang juga harus memiliki keinginan untuk menjadi seseorang yang positif, dan meningkatkan disiplin dan dedikasi untuk mempraktekkan hal-hal tersebut di dalam kehidupan sehari-hari.
C.2 Bentuk Sikap dan Perilaku Seseorang dalam Konteks Karir
  Berbagai bentuk dan jenis perilaku sosial seseorang pada dasarnya merupakan karakter atau ciri kepribadian yang  dapat  teramati ketika  seseorang berinteraksi dengan orang lain.  Berikut ini adalah Sikap seseorang dalam konteks karir:
1)   Mampu menilai diri sendiri secara realisitik; mampu menilai diri apa adanya tentang kelebihan dan kekurangannya, secara fisik, pengetahuan, keterampilan dan sebagainya.
2)   Mampu menilai situasi secara realistik; dapat menghadapi situasi atau kondisi kehidupan yang dialaminya secara realistik dan mau menerima secara wajar, tidak mengharapkan kondisi kehidupan itu sebagai sesuatu yang sempurna.
3)   Mampu menilai prestasi yang diperoleh secara realistik; dapat menilai keberhasilan yang diperolehnya dan meraksinya secara rasional, tidak menjadi sombong, angkuh atau mengalami superiority complex, apabila memperoleh prestasi yang tinggi atau kesuksesan hidup. Jika mengalami kegagalan, dia tidak mereaksinya dengan frustrasi, tetapi dengan sikap optimistik.
4)   Menerima tanggung jawab; dia mempunyai keyakinan terhadap kemampuannya untuk mengatasi masalah-masalah kehidupan yang dihadapinya.
5)   Kemandirian; memiliki sifat mandiri dalam cara berfikir, dan bertindak, mampu mengambil keputusan, mengarahkan dan mengembangkan diri serta menyesuaikan diri dengan norma yang berlaku di lingkungannya.
6)   Dapat mengontrol emosi; merasa nyaman dengan emosinya, dapat menghadapi situasi frustrasi, depresi, atau stress secara positif atau konstruktif , tidak destruktif (merusak).
7)   Berorientasi tujuan; dapat merumuskan tujuan-tujuan dalam setiap aktivitas dan kehidupannya berdasarkan pertimbangan secara matang (rasional), tidak atas dasar paksaan dari luar, dan berupaya mencapai tujuan dengan cara mengembangkan kepribadian (wawasan), pengetahuan dan keterampilan.
8)   Berorientasi keluar (ekstrovert); bersifat respek, empati terhadap orang lain, memiliki kepedulian terhadap situasi atau masalah-masalah lingkungannya dan bersifat fleksibel dalam berfikir, menghargai dan menilai orang lain seperti dirinya, merasa nyaman dan terbuka terhadap orang lain, tidak membiarkan dirinya dimanfaatkan untuk menjadi korban orang lain dan mengorbankan orang lain, karena kekecewaan dirinya.
9)   Penerimaan sosial; mau berpartsipasi aktif dalam kegiatan sosial dan memiliki sikap bersahabat dalam berhubungan dengan orang lain.
10)  Memiliki filsafat hidup; mengarahkan hidupnya berdasarkan filsafat hidup yang berakar dari keyakinan agama yang dianutnya.
11)  Berbahagia; situasi kehidupannya diwarnai kebahagiaan, yang didukung oleh faktor-faktor achievement (prestasi), acceptance (penerimaan), dan affection (kasih sayang).

C.3  Merubah Perilaku dalam Karir
  Jika seorang individu memiliki sikap negatif terhadap satu atau beberapa aspek dalam kehidupan organisasi atau pekerjaan, seorang pimpinan atau kepala hendaknya  berusaha untuk merubah sikap negatif tersebut menjadi sikap yang positif. Meskipun terkadang individu  cenderung resisten terhadap perubahan. Oleh karena itu sebelum melakukan perubahan sikap individu harus terlebih dahulu diketahui bagaimana cara terbaik untuk melakukan perubahan dan kemungkinan tingkat keberhasilannya. Perubahan sikap dapat dilakukan dengan menambah, menghilangkan atau memodifikasi keyakinan atau komponen afektif lainnya. Diantaranya adalah:
  1. Memberi informasi baru.
Hal ini dilakukan semisal ketika pegawai atau pekerja tidak tau mengenai suatu informasi yang berkaitan dengan pekerjaan atau karirnya, sehingga perilakunya cenderung negative maka pemimpin atau kepala dapat memberikan suatu informasi yang berkaitan dengan pekerjaan atau karir tersebut untuk merubah perilaku pegawainya menjadi postif.
  1. Menambah atau mengurangi rasa takut.
Menambah rasa takut dapat berbentuk seperti halnya sebuah ancaman untuk menakut- nakuti individu agar tidak melakukan perbuatan negative tersebut, sedangkan mengurangi rasa takut dapat berwujud seperti halnya ketika individu merasakan sebuah ketakutan dalam melakukan suatu perbuatan maka dapat dikurangi rasa takut tersebut dengan memberikan sebuah pengertian atau nasihat dan masukan.
  1. Menambah dan  mengurangi keraguan.
Menambah dan mengurangi keraguan dilakukan apabila individu mengalami keraguan yang berpengaruh pada perilakunya maka dapat ditambah ataupun dikurangi keraguan tersebut guna merubah perilaku menjadi lebih baik.

  1. Partisipasi dalam diskusi kelompok.
Partisipasi dalam diskusi kelompok sangat penting dalam memecahkan sebuah permasalahan yang terjadi pada karir dan sebagainya. Sehingga dengan terpecahkannya sebuah masalah perilaku yang tadinya salah menjadi benar.
Seorang pemimpin atau kepala  perlu memahami dengan baik sikap kerja bawahannya mengingat sikap positif atau sebaliknya sikap negatif tentu akan berpengaruh terhadap kinerja organisasi. Pada bagian ini akan diuraikan tiga bentuk sikap kerja yang diyakini berpengaruh terhadap kinerja yaitu: Kepuasan kerja, komitmen organisasi dan keterlibatan kerja.
a.       Kepuasan Kerja
Kinerja yang tinggi tidak selalu diikuti oleh kepuasan kerja karyawan. Demikian juga kepuasan kerja yang tinggi tidak selalu menyebabkan kinerja organisasi tinggi. Yang paling ideal adalah kepuasan kerja kerja karyawan diikuti oleh kinerja organisasi. Inilah harapan para Pempinan atau kepala pada umumnya. Oleh karena itu berbagai macam studi dilakukan untuk menciptakan kondisi ideal tersebut. Kepuasan kerja itu sendiri dalam beberapa hal dipengaruhi oleh sikap kerja karyawan dan selanjutnya berdampak pada keterlibatan kerja, komitmen organisasi dan tingkat kesehatan fisik dan mental karyawan. Sebaliknya ketidakpuasan dalam bekerja bisa meningkatkan tingkat absensi, kegersangan organisasi (organizational drift), iklim kerja yang tidak kondusif, dan persoalan-persoalan ketenagkerjaan lainnya. Oleh karena itu dalam praktik para manajer biasanya secara reguler melakukan survei untuk mengetahui sikap karyawan dan dampaknya terhadap kepuasan kerja.
b. Komitmen Organisasi
Komitmen organisasi adalah nilai-nilai personal yang kadang-kadang disebut sebagai loyalitas atau komitmen terhadap perusahaan. Yang dimaksud dengan komitmen organisasi adalah tingkat identifikasi diri dan keterlibatan karyawan terhadap organisasi. Ada tiga karakteristik penting berkaitan dengan komitmen organisasi, yaitu (1) keyakinan yang sangat kuat terhadap nilai-nilai dan tujuan organisasi, (2) mau berupaya lebih keras demi organisasi, dan (3) mempunyai keinginan yang kuat untuk tetap menjadi bagian dari organisasi. Ketiga karakteristik ini menunujukkan bahwa komitmen organisasi bukan sekedar loyal kepada organisasi secaa pasif melainkan berpartisipasi aktif dengan memberi kontribusi personal agar organisasi berhasil.
Komitmen karyawan terhadap organisasi, disebabkan karena beberapa factor berikut ini.
1.      Factor personal. Karyawan yang lebih tua biasanya memiliki komitmen yang lebih tinggi dibanding karyawan muda. Demikain juga karyawan perempuan lebih berkomitmen dibandingkan karyawan laki-laki. Sedangkan karyawan berpendidikan rendah akan menunjukkan komitmennya dibandingkan karyawan berpendidikan lebih tinggi.
2.      Karakteristik yang terkait dengan peran karyawan. Komitmen organisasi akan lebih kuat jika konflik peran dan ambigu relatif lebih kecil.
3.      Karakteristik structural. Organisasi yang terdesentralisasi menghasilkan komitmen yang lebih tinggi dibandingkan organisasi yang sentralistik. Dengan desentralisasi organisasi berarti karyawan bisa berpartisipasi langsung dalam mengambil keputusan yang berkaitan pekerjaannya.
4.      Pengalaman kerja. Karyawan dengan pengalaman kerja yang cukup lama dan lebih-lebih karyawan tersebut merasa memperoleh keuntungan dari perusahaan cenderung memiliki komitmen yang lebih tinggi.

c.   Keterlibatan Kerja
Keterlibatan kerja bisa disebut sebagai nilai-nilai kerja. Secara umum keterlibatan kerja didefinisikan sebagai kekuatan hubungan antara konsep diri dan kerja individual seseorang. Seseorang dikatakan keterlibatannya dalam kerja sangat tinggi jika: (1) berpartisipasi secara aktif. (2) memandang kerja sebagai bagian dari hidup yang sangat penting dan (3) melihat pekerjaan dan seberapa baik ia bekerja sebagai bagian penting dari konsep diri mereka. Seseorang yang keterlibatannya dalam pekerjaan sangat tinggi cenderung menyatu dengan pekerjaan – memiliki ego yang tinggi terhadap pekerjaan. Ia bisa menghabiskan waktu berjam-jam untuk bekerja dan manakala jauh dari tempat kerja ia selalu memikirkannya. Jika gagal mengerjakan proyek ia merasa frustasi. Jika hasil kerjanya jelek ia merasa malu. Bagi orang-orang semacam ini, pekerjaan adalah aspek penting dalam hidupnya. Job involvement merupakan hasil dari kombinasi antara karakteristik seseorang dengan factor-faktor organisasi.
Seseorang akan menunjukkan keterlibatan kerja yang lebih tinggi jika orang tersebut berkomitmen terhadap etika kerja, atau jika ia memiliki konsep diri yang sejalan dengan kinerjanya. Keterlibatan kerja yang lebih tinggi juga terkait dengan sejauh mana pekerjaan tersebut memberi kesempatan bagi dirinya untuk berpartisipasi dalam membuat keputusan penting tentang pekerjaan tersebut. Akibatnya, keterlibatan kerja merupakan hasil dari kombinasi antara orientasi nilai Si pekerja dengan karakteristik pekerjaan yang diharapkan yang memungkin ia terlibat dalam pekerjaan.






PENUTUP
A.          Simpulan
1.      Perilaku bukanlah suatu pembawaan yang ada begitu saja, namun merupakan suatu proses pembelajaran
2.      karir seorang individu melibatkan rangkaian pilihan dari berbagai macam kesempatan. Jika ditinjau dari sudut pandang organisasi, karir melibatkan proses dimana organisasi memperbaharui dirinya sendiri untuk menuju efektivitas karir yang merupakan batas dimana rangkaiandari sikap karir dan perilaku dapat memuaskan seorang individu.
3.      Cara membentuk atau mempertahankan tingkah laku yang positif yang pertama adalah kepekaan terhadap hal-hal mendasar yang dapat membentuk tingkah laku yang positif, kemudian seseorang juga harus memiliki keinginan untuk menjadi seseorang yang positif, dan meningkatkan disiplin dan dedikasi untuk mempraktekkan hal-hal tersebut di dalam kehidupan sehari-hari.





                                                             



DAFTAR PUSTAKA
Poerwadarminta. 1984. Kamus Umum Bahasa Indonesia (Cetakan ke-7). Jakarta: PN Balai Pustaka
http://ekonomi.kompasiana.com/manajemen/2011/07/06/definisi-karier/




8 komentar: