Halaman

Kamis, 16 Mei 2013

PETA KOGNISI TEORI TINGKAH LAKU PSIAN-HUMANISTIK



A.  PSIKOANALISIS
1.    Sejarah dan Tokoh
Teori Psikoanalisis atau Psikodinamika merupakan induk dari teori-teori kepribadian yang ada saat ini.Teori ini dicetuskan oleh Sigmund Freud.Ia adalah sorang dokter psikiatri (Sofyan, 2004: 57). Freud lahir pada tahun 1896 lahir di Freiburg, Moravia.Freud adalah dokter muda ambisius yang percaya bahwa dirinya telah menemukan sebuah obat yang memiliki semua jenis khasiat ajaib, yaitu untuk mengurangi rasa sakit atau untuk meningkatkan performa (Feist dan Feist, 2008: 17).Obat yang diceritakan olehnya adalah kokain.
Pada mulanya psikoanalisis adalah suatu metode untuk menghilangkan gangguan-gangguan pada susunan saraf (gejala-gejala sakit hysteria) seperti penemuan kokain yang diceritakan oleh Freud. Akan tetapi, metode tersebut lama kelamaan menjadi metode untuk menyelidiki proses alam bawah sadar.Tokoh yang termasuk aliran ini adalah dr. Breuer.

2.    Konsep Dasar
Teori Psikoanalisis merupakan teori kepribadian yang menyatakan bahwa struktur kepribadian manusia terdiri dari 3 unsur, yaitu id, ego dan superego.
a.    Id (es)adalahkomponen biologis, sebagai sistem kepribadian yang orisinil. Id berupa dorongan-dorongan primitif yang mengutamakan prinsip kesenangan. Id  bersifat tidak sadar dan irasional. Contoh: dorongan seksual, dorongan agresi
b.    Ego(ich)adalah komponen psikologis yang melakukan kontak dengan dunia  realitas. Karena kontak dengan realitas inilah, ego menjadi pengontrol utama kesadaran, menyediakan pemikiran dan perencanaan yang relistik dan logis, dan akan sanggup meredam hasrat-hasrat irasional id.
c.    Superego ( uber ich) adalah komponen sosial (Corey, 2003: 14). Superego yang bertugas sebagai penentu baik buruknya. Superego juga bersifat sesuai norma yang ditentukan oleh kebudayaan. Dorongan primitive dari id akan dihubungkan oleh ego menggunakan prinsip realitas dan akan dinilai oleh superego.

Dorongan atau hasrat dari idseperti keinginan untuk makan semua makanan karena lapar disalurkan oleh ego kepada superego.Ego mengatur keseimbangan agar keinginan makan semua makanan disesuaikan dengan reaslitas.Superego membatasi kalau yang dimakan hanyalah makanan yang ada di piring sendiri dan menyatakan kalau memakan makanan orang lain adalah tidak baik.
Dalam mekanisme ketiga unsur kepribadian tersebut, peran ego cukup berat karena harus mengatur keseimbangan agar dorongan dari id yang dimunculkan ke kesadaran tetapi juga agar tidak dorongan superego saja yang dipenuhi. Orang yang memiliki ego lemah, yaitu terlalu dikuasai oleh dorongan id saja, maka orang tersebutakan menjadi psikopat (tidak memperhatikan norma-norma sosial dalam segala tindakan). Sedangkan orang dengan ego yang terlalu dikuasai oleh superego, maka ia akan menjadi psikoneurose (tidak menyalurkan sebagian besar dorongan primitifnya).
Ego dapat melakukan mekanisme pertahanan (defence mechanism) untuk melindunginya dari ancaman dorongan primitive yang mendesak terus karena tidak diijinkan oleh superego. Terdapat 9 mekanisme pertahanan ego yaitu:
1.    Represi, yaitu suatu bentuk pertahanan dimana hal yang pernah dialami dan menimbulkan ancaman bagi ego ditekan masuk ke ketidaksadaran dan disimpan di sana agar tidak mengganggu ego lagi
2.    PembentukanReaksi, yaitu suatu bentuk pertahanan dimana seseorang justru bereaksi sebaliknya dari yang dikehendakinya demi tidak melanggar ketentuan superego
3.    Proyeksi, yaitu suatu bentuk pertahanan dimana karena superego melarang seseorang mempunyai perasaan atau sikap tertentu terhadap oran lain, maka ia bersikap seolah-olah orang lain yang mempunyai sikap atau perasaan tersebut
4.    PenempatanyangKeliru, yaitu bentuk pertahanan dimana seseorang tidak dapat melampiaskan perasaan tertentu terhadaporang lain karena hambatan superego, maka ia melampiaskannya ke pihak ketiga
5.    Rasionalisasi, yaitu bentuk pertahanan dimana dorongan-dorongan yang sebenarnya dilarang oleh superego dicarikan penalaran sedemikian rupa sehingga dapat dibenarkan
6.    Supresi, yaitu bentuk pertahanan dengan jalan menekan sesuatu yang dianggap membahayakan ego ke dalam ketidaksadaran
7.    Sublimasi, yaitu bentuk pertahanan diri dimana dorongan-dorongan yang tidak dibenarkan oleh superego tetap dilakukan dalam bentuk yang lebih sesuai dengan norma yang berlaku di masyarakat
8.    Kompensasi, yaitu usaha menutupi kekurangan di salah satu bidang atau organ lain dengan meningkatkan prestasi di bagian lainnya
9.    Regresi, yaitu bentuk pertahanan untuk menghindari kegagalan-kegagalan atau ancaman dari ego, seseorang mundur kembali ke taraf perkembangan yang lebih rendah.
Teori Psikoanalisis memandang tingkah laku sebagai hasil dari mekanisme ketiga unsur kepribadian dalam struktur kepribadian yang melibatkan id, ego dan superego.Tingkah laku berasal dari dorongan-dorongan primitif yang diseleksi oleh superego melalui peran ego dalam menyalurkannya.Artinya, tingkah laku dipengaruhi oleh dorongan-dorongan ketidaksadaran (alam bawah sadar).
d.   Teknik-Teknik yang Digunakan
1)   Asosiasi bebas
Teknik pokok dalam terapai psikoanalisa adalah asosiasi bebas.Konselor memerintahkan klien untuk menjernihkan pikiranya adari pemikiran sehari-hari dan sebanyak mungkin untuk mengatakan apa yang muncul dalam kesadaranya. Yang pokok, adalah klien mengemukakan segala sesuatu melalui perasaan atau pemikiran dengan melaporkan secepatnya tanpa sensor.Metode ini adalah metoda pengungkapan pangalaman masa lampau dan penghentian emosi-emosi yang berkaitan dengan situasi traumatik dimasa lalu.
2)   Interpretasi
Adalah prosedur dasar yang digunakan dalam analisis asosiasi bebas, analisi mimpi, analisis resistensi dan analisis transparansi.Prosedurnya terdiri atas penetapan analisis, penjelasan, dan mengajarkan klien tentang makna perilaku dimanifestasikan dalam mimpi, asosiasi bebas, resistensi dan hubungan terapeutik itu sendiri. Fungsi interpretasi adalah membiarkan ego untuk mencerna materi baru dan mempercepat proses menyadarkan hal-hal yang tersembunyi.
3)   Analisis mimpi
Merupakan prosedur yang penting untuk membuka hal-hal yang tidak disadari dan membantu klien untuk memperoleh tilikan kepada masalah-masalah yang belum terpecahkan.
4)   Analisis dan interpretasi resistensi
Freud memandang resistensi sebagai suatu dinamika yang tidak disadari yang mendorong seseorang untuk mempertahankan terhadap kecemasan.Interpretasi konselor terhadap resistensi ditujukan kepada bantuan klien untuk menyadari alasan timbulnya resistensi.
5)   Analisis dan interpretasi transferensi
Transferensi muncul dengan sendirinya dalam proses terapeutik pada saat dimana kegiatan-kegiatan klien masa lalu yang tak terselesaikan dengan orang lain, menyebabkan dia mengubah masa kini dan mereaksi kepada analisis sebagai yang dia lakukan kepada ibunya atau ayahnya ataupun siapapun.
2)   Kelebihan dan Kelemahan
Kelebihan
1.      Konseling psikoanalisis merupakan penyembuhan yang lebih bersifat psikologis dengan cara-cara fisik
2.      Adanya penyesuaian antara teori dan teknik
3.      Teori kepribadian dan teknik terapi
4.      Model penggunaan wawancara sebagai alat terapi
5.      Terlalu meminimalkan rasionalitas
Kekurangan
1.         Pandangannya yang terlalu deterministic dan dinilai terlalu merendahkan martabat manusia.
2.         Terlalu banyak menekankan kepada pengalaman kanak-kanak, dan menganggap kehidupan seolah-olah sepenuhnya di tentukan masa lalu. Hal ini memberikan gambaran seolah-olah sepenuhnya tanggung jawab individu berkurang.
3.         Terlalu meminimalkan rasionalitas.

3)   Aplikasi/Penerapan Teori
Psikoanalisis memberikan kepada konselor suatu kerangka konseptual untuk melihat tingkah laku serta untuk memahami sumber-sumber dan fungsi-fungsi simptomologi yang tampil sekarang.Psikoanalisis juga sangat berguna untuk memahami fungsi pertahanan-pertahanan ego sebagai reaksi-reaksi terhadap kecemasan. Jika konselor mengabaikan sejarah masa lampau kliennya, berarti ia membatasi pandangannya atas penyebab-penyebab penderitaan yang dialami oleh klien dan sifat gaya hidup klien sekarang. Hal itu tidak berarti bahwa konselor harus terpaku pada masa lampau klien,menggali dan membahasnya secara eksklusif, tetapi berarti bahwa pengabaian pengalaman-pengalaman masa dini sebagai determinan-determinan konflik-konflik yang terjadi sekarang membatasi kemampuan konselor untuk membantu pertumbuhan klien. Tidak ada alasan untuk menimpakan kesalahan pada masa lampau atas fakta bahwa klien sekarang, umpamanya, tidak mampu mencintai.Akan tetapi, bagaimanapun, jika klien merasa takut untuk membentuk hubungan yang akrab dengan orang lain, maka konselor harus memahami akar-akar kekuragan kliennya itu. Tambahan pula, konseling akan mencakup penembusan sejumlah rintangan masa lampau yang sekrang menghambat klien dalam mencintai.



B.  HUMANISTIK
1.    Sejarah dan Tokoh
Sejarah
Sepanjang sejarah keinginan manusia untuk mengetahui sebab-sebab tingkah lakunya dan semenjak psikologi menjadi pengetahuan yang otonom, masalah aspek kejiwaan yang mengatur, membimbing dan mengontrol tingkah laku manusia selalu timbul dan menjadi persoalan.Pengertian umum (popular) mengenai inner entity ini barangkali ialah jiwa (soul). Menurut teori  “Jiwa“ gejala-gejala kejiwaan (mental phenomena) dianggap sebagai pencerminan  (manifestasi) substansi khusus yang secara khas berbeda dari substansi kebendaan. Dalam pikiran keagamaan jiwa itu dipandang sebagai abadi, bebas dan asalnya suci.
Dengan berkembangnya psikologi yang positifitas pengertian tentang jiwa atau aspek-aspek kejiwaan yang lain seperti mind, ego, will, self itu cenderung untuk ditolak, terlebih di Amerika Serikat. Tetapi akhir-akhir ini diantara ahli-ahli di Amerika Serikat terdapat perhatian terhadap pengertian self itu. W.James dalam bukunya :Principles of Psychology (1890, chapter X ).
Tokoh-tokoh

TEORI BELAJAR HUMANISTIK

Tujuan belajar adalah untuk memanusiakan manusia. Akan berhasil jika sipelajar telah memahami lingkungan dan dirinya sendiri. Teori ini berusaha memahami perilaku belajar dari sudut pandang pelakunya, bukan dari sudut pendang pengamatannya.
Tujuan utama para pendidik ialah membantu siswa untuk mengembangkan dirinya, yaitu membantu masing-masing individu untuk mengenal diri mereka sendiri sebagai manusia yang unik dan membantu dalam mewujudkan potensi-potensi yang ada pada diri mereka. Para ahli humanistik melihat adanya dua bagian pada proses belajar, ialah:
1. Proses pemerolehan informasi baru,
2. Personalisasi informasi ini pada individu
Tokoh-tokohnya:
1. Arthur Combs (1912 – 1399)
Combs memberikan lukisan persepsi diri dan dunia seseorang seperti dua lingkaran (besar dan kecil) yang bertitik pusat satu. Lingkaran kecil (1) adalah gambaran dari persepsi diri dan lingkungan besar (2) adalah persepsi dunia. Main jauh peristiwa-peristiwa itu dari persepsi diri makin berkurang pengaruhnya terhadap perilakunya. Jadi, hal-hal yang mempunyai sedikit hubungan dengan diri, makin mudah hal itu terlupakan.


2. Abraham Maslow
Teori Maslow didasarkan atas asumsi bahwa di dalam diri individu ada dua hal:
1. Suatu usaha yang positif untuk berkembang.
2. Kekuatan untuk melawan atau menolak perkembangan itu.

3. Carl Rogers
Carl Rogers, seorang psikolog humanistik lainnya, mengutarakan sebuah teori yang disebut dengan teori pribadi terpusat. Seperti halnya Freud, Rogers menjelaskan berdasarkan studi kasus klinis untuk mengutarakan teorinya. Dia juga mengembangkan gagasan dari Maslow serta ahli teori lainnya. Dalam pandangan Rogers, konsep diri merupakan hal terpenting dalam kepribadian, dan konsep diri ini juga mencakup kesemua aspek pemikiran, perasaan, serta keyakinan yang disadari oleh manusia dalam konsep dirinya.

Kongruensi dan Inkongruensi
Rogers mengatakan bahwa konsep diri manusia seringkali tidak tepat secara sempurna dengan realitas yang ada. Misalnya, seseorang mungkin memandang dirinya sebagai orang yang sangat jujur namun kenyataannya seringkali berbohong kepada atasannya tentang alasan mengapa dia datang terlambat. Rogers menggunakan istilah inkongruensi (ketidaksejajaran) untuk mengacu pada kesenjangan antara konsep diri dengan realitas. Di sisi lain, kongruensi, merupakan kesesuaian yang sangat akurat antara konsep diri dengan realitas.
Menurut Rogers, para orang tua akan memacu adanya inkongruensi ini ketika mereka memberikan kasih sayang yang kondisional kepada anak-anaknya. Orang tua akan menerima anaknya hanya jika anak tersebut berperilaku sebagaimana mestinya, anak tersebut akan mencegah perbuatan yang dipandang tidak bisa diterima. Disisi lain, jika orang tua menunjukkan kasih sayang yang tidak kondisional, maka si anak akan bisa mengembangkan kongruensinya. Remaja yang orang tuanya memberikan rasa kasih sayang kondisional akan meneruskan kebiasaan ini dalam masa remajanya untuk mengubah perbuatan agar dia bisa diterima di lingkungan.
2.        Konsep Dasar
Teori Humanistik menyatakan bahwa pada dasarnya manusia memiliki kesadaran terhadap dirinya sendiri dan tentang apa yang dilakukannya. Manusia bebas melakukan sesuatu dan memiliki tanggung jawab atas apa yang dilakukannya. Manusia memiliki keunikan yang tidak dimiliki oleh manusia lainnya. Manusia mampu menentukan sendiri apa yang akan dilakukannya. Pandangan Humanistik berfikus pada kondisi manusia (Corey, 2003: 54). Lebih lanjut, Corey (2003: 54) menyatakan bahwa manusia memiliki kesanggupan untuk menyadari dirinya sendiri, suatu kesanggupan yang unik dan nyata yang memungkinkan manusia mampu berpikir dan memutuskan.
3.        Teknik-Teknik yang Digunakan
a.    Client centered: kegiatan berpusat pada klien.
b.    Acceptance: penerimaan pada klien.
c.    Respect: menghargai klien.
d.   Understanding: memahami klien.
e.    Reassuarance: menentramkan hati klien.
f.     Encouredment: memberikan dorongan pada klien.
g.    Limited questioning: pertanyaan terbatas pada klien.
h.    Reflection: pemantulan kembali apa yang diungkapkan klien.
4.        Kelebihan dan Kelemahan
a.    Kelebihan Teori Humanistik
1)               selalu mengedepankan akan hal-hal yang bernuansa demokratis, partisipatif-dialogis dan humanis.
2)               Suasana pembelajaran yang saling menghargai, adanya kebebasan berpendapat, kebebasan mengungkapkan gagasan.
3)               keterlibatan peserta didik dalam berbagai aktivitas di sekolah, dan lebih-lebih adalah kemampuan hidup bersama (komunal-bermasyarakat) diantara peserta didik yang tentunya mempunyai pandangan yang berbeda-beda.
b.    Kekurangan Teori Humanistik :
1)                 Teori humanistik tidak bisa diuji dengan mudah.
2)                 Banyak konsep dalam psikologi humanistik, seperti misalnya orang yang telah berhasil mengaktualisasikan dirinya, ini masih buram dan subjektif.
3)                  Psikologi humanistik mengalami pembiasan terhadap nilai individualistis.
5.        Aplikasi/Penerapan Teori
Aplikasi teori humanistik lebih menunjuk pada ruh atau spirit selama proses pembelajaran yang mewarnai metode-metode yang diterapkan. Peran guru dalam pembelajaran humanistik adalah menjadi fasilitator bagi para siswa sedangkan guru memberikan motivasi, kesadaran mengenai makna belajar dalam kehidupan siswa. Guru memfasilitasi pengalaman belajar kepada siswa dan mendampingi siswa untuk memperoleh tujuan pembelajaran.
Siswa berperan sebagai pelaku utama (student center) yang memaknai proses pengalaman belajarnya sendiri. Diharapkan siswa memahami potensi diri , mengembangkan potensi dirinya secara positif dan meminimalkan potensi diri yang bersifat negatif.
Pembelajaran berdasarkan teori humanisme ini cocok untuk diterpkan pada materi-materi pembelajaran yang bersifat pembentukan kepribadian, hati nurani, perubahan sikap, dan analisis terhadap fenomena sosial.Indikator dari keberhasilan aplikasi ini adalah siswa merasa senang bergairah, berinisiatif dalam belajar dan terjaadi perubahan pola pikir, perilaku dan sikap atas kemauan sendiri.Siswa diharapkan menjadi manusia yang bebas, berani, tidak terikat oleh pendapat orang lain dan mengatur pribadinya sendiri secara bertanggungjawab tanpa mengurangi hak-hak orang lain atau melanggar aturan , norma , disiplin atau etika yang berlaku.
Psikologi humanisme memberi perhatian atas guru sebagai fasilitator.
1. Fasilitator sebaiknya memberi perhatian kepada penciptaan suasana awal, situasi kelompok, atau pengalaman kelas
2. Fasilitator membantu untuk memperoleh dan memperjelas tujuan-tujuan perorangan di dalam kelas dan juga tujuan-tujuan kelompok yang bersifat umum.
3. Dia mempercayai adanya keinginan dari masing-masing siswa untuk melaksanakan tujuan-tujuan yang bermakna bagi dirinya, sebagai kekuatan pendorong, yang tersembunyi di dalam belajar yang bermakna tadi.
4.  Dia mencoba mengatur dan menyediakan sumber-sumber untuk belajar yang paling luas dan mudah dimanfaatkan para siswa untuk membantu mencapai tujuan mereka.
5. Dia menempatkan dirinya sendiri sebagai suatu sumber yang fleksibel untuk dapat dimanfaatkan oleh kelompok.
6. Di dalam menanggapi ungkapan-ungkapan di dalam kelompok kelas, dan menerima baik isi yang bersifat intelektual dan sikap-sikap perasaan dan mencoba untuk menanggapi dengan cara yang sesuai, baik bagi individual ataupun bagi kelompok
7. Bilamana cuaca penerima kelas telah mantap, fasilitator berangsur-sngsur dapat berperanan sebagai seorang siswa yang turut berpartisipasi, seorang anggota kelompok, dan turut menyatakan pendangannya sebagai seorang individu, seperti siswa yang lain.
8. Dia mengambil prakarsa untuk ikut serta dalam kelompok, perasaannya dan juga pikirannya dengan tidak menuntut dan juga tidak memaksakan, tetapi sebagai suatu andil secara pribadi yang boleh saja digunakan atau ditolak oleh siswa.


Daftar Pustaka


Feist, Jess dan Gregory J. Feist. 2008. Theories of Personality. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Gibson, Robert L. dan Marianne H. Mitchell. 2011. Bimbingan dan Konseling. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Corey, Gerald. 2003. Teori dan Praktek Konseling dan Psikoterapi. Bandung: PT Refika Aditama.
Willis, Sofyan S. 2004. Konseling: Teori dan Praktek. Bandung: ALFABETA.
Sugihartono,dkk. (2006). Psikologi Pendidikan.Yoyakarta: FIP UNY
http://resources.unpad.ac.id/unpad-content/uploads/publikasidosen/mengenal%20tipe%20kepribadian%20dan%20kesadaran%20manusia.pdf
http://rohadieducation.wordpress.com/2007/06/16/perilaku-dari-sudut-pandang-psikoanalisa/
http://sastra-broto.blogspot.com/2010/03/primer-of-freudian-psychology-calvin-s.html

5 komentar: