A. Latar
Belakang Masalah
Perilaku seseorang terbentuk mulai pada saat
individu lahir ke dalam dunia ini, kemudian terus berkembang seiring dengan
berjalannya roda kehidupan seseorang, dan masa yang terbaik untuk membentuk
karakter seseorang adalah pada masa pertumbuhan seseorang, mulai dari masih di
dalam kandungan, masa balita, kemudian masa anak-anak, sampai seseorang
beranjak dari remaja menjadi dewasa adalah masa yang tepat untuk membentuk
karakter/ tingkah laku seseorang.
Perilaku dapat berubah sewaktu-waktu. Sosial individu, dalam
hal ini salah satunya factor lingkungan individu sangat berpengaruh terhadap
perubahan perilaku yang telah dibentuk. Lingkungan dapat mengubah suatu
perilaku menjadi baik atau bahkan sebaliknya. Untuk mencegah adanya perubahan
kearah yang negative, maka seorang individu perlu memahami tentang bagaimana
cara memelihara dan mempertahankan perilakunya ditengah kehidupan yang terus
berkembang.
Dari
uraian diatas penulis tertarik untuk membuat makalah dengan menarik judul “ Memelihara dan Mempertahankan
Perilaku dalam Seting Karir”
PEMBAHASAN
A. Pengertian Karir
Menurut
Gibson dkk. (1995: 305) karir adalah rangkaian sikap dan perilaku yang
berkaitan dengan pengalaman dan aktivitas kerja selama rentang waktu kehidupan
seseorang dan rangkaian aktivitas kerja yang terus berkelanjutan. Pandangan
yang lebih luas daripada karir adalah sebagai suatu rangkaian atas sikap dan perilaku
yang berkaitan dengan aktifitas pekerjaan dan pengalaman sepanjang kehidupan
seseorang. Dengan demikian karir seorang individu melibatkan rangkaian pilihan
dari berbagai macam kesempatan. Jika ditinjau dari sudut pandang organisasi,
karir melibatkan proses dimana organisasi memperbaharui dirinya sendiri untuk
menuju efektivitas karir yang merupakan batas dimana rangkaian dari sikap karir
dan perilaku dapat memuaskan seorang individu.
Menurut
Greenhaus (1987: 5) yang dikutip oleh Irianto (2001: 93) terdapat pendekatan
untuk memahami makna karir, yaitu : pendekatan yang memandang karir sebagai
pemilikan (a property) dan/atau dari occupation atau organisasi.
Pendekatan ini memandang bahwa karir sebagai jalur mobilitas di dalam
organisasi yang tunggal seperti jalur karir di dalam fungsi marketing, yaitu
menjadi sales representative, manajer produk, manajer marketing distrik,
manajer marketing regional, dan wakil presiden divisional marketing dengan
berbagai macam tugas dan fungsi pada setiap jabatan.
Berdasarkan
pendekatan tersebut definisi karir adalah sebagai pola pengalaman berdasarkan
pekerjaan (work-related experiences) yang merentang sepanjang perjalanan
pekerjaan yang dialami oleh setiap individu/pegawai dan secara luas dapat
dirinci ke dalam obyective events. Salah satu contoh untuk
menjelaskannya melalui serangkaian posisi jabatan/pekerjaan, tugas atau
kegiatan pekerjaan, dan keputusan yang berkaitan dengan pekerjaan (work-related
decisions). Tidak hanya itu saja, juga mengenai interpretasi subyektif
tentang peristiwa yang berkaitan dengan pekerjaan (workrelated events)
baik pada masa lalu, kini dan mendatang seperti aspirasi pekerjaan, harapan,
nilai, kebutuhan dan perasaan tentang pengalaman pekerjaan tertentu.
B. Konsep Dasar Perilaku
Dalam kamus bahasa Indonesia Perilaku merupakan tanggapan atau reaksi individu terhadap
rangsangan atau lingkungan. Notoatmodjo,
(2003) mengemukakan bahwa perilaku manusia adalah semua kegiatan atau aktivitas
manusia, baik yang diamati langsung, maupun yang tidak dapat diamati oleh pihak
luar. Perilaku
seseorang terbentuk mulai pada saat individu lahir ke dalam dunia ini, kemudian
terus berkembang seiring dengan berjalannya roda kehidupan seseorang, dan masa
yang terbaik untuk membentuk karakter seseorang adalah pada masa pertumbuhan
seseorang, mulai dari masih di dalam kandungan, masa balita, kemudian masa
anak-anak, sampai seseorang beranjak dari remaja menjadi dewasa adalah masa
yang tepat untuk membentuk karakter/ tingkah laku seseorang.
Namun demikian pada hakikatnya perilaku bukanlah suatu
pembawaan yang ada begitu saja, namun merupakan suatu proses pembelajaran. Pembentukan
suatu perilaku dapat dikategorikan menjadi beberapa cara :
1. Kondisioning atau Kebiasaan
Salah
satu cara pembentukan perilaku dapat ditempuh dengan membiasakan untuk
berperilaku seperti yang diharapakan. Cara ini didasarkan pada teori belajar
kondisioning baik yang dikemukakan Pavlov maupun oleh Skinner dan Thorndike.
2. Pengertian (insight)
Cara ini didasarkan atas teori belajar kognitif,
yaitu belajar dengan disertai adanya pengertian. Misal datang kuliah jangan
sampai terlambat, karena hal tersebut dapat mengganggu teman-teman yang lain.
3. Menggunakan Model
Cara
ini didasarkan pada peniruan sejumlah tingkah laku dari seorang individu yang
dijadikan model.
Harlod
Kelley dalam teorinya menjelaskan tentang bagaimana orang menarik kesimpulan
tentang “apa yang menjadi sebab” apa yang menjadi dasar seseorang melakukan
suatu perbuatan atau memutuskan untuk berbuat dengan cara-cara tertentu.
Menurut Kelley ada tiga factor yang menjadi dasar pertimbangan orang untuk
menarik kesimpulan apakah suatu perbuatan atau tindakan itu disebabkan oleh
sifat dari dalam diri (disposisi) ataukah disebabkan oleh factor di luar diri.
Ketiga factor dasar pertimbangan tersebut adalah :
1. Konsensus
Konsensus adalah situasi yang membedakan perilaku
seseorang dengan perilaku orang lainnya dalam menghadapi situasi yang sama.
Bila seseorang berperilaku sama dengan kebanyakan orang lain, maka perilaku
orang tersebut memiliki konsesnsus yang tinggi. Tetapi bila perilaku seseorang
tersebut berbeda dengan perilaku kebanyakan orang maka berarti perilaku
tersebut memiliki consensus yang rendah.
2. Konsistensi
Konsistensi adalah suatu kondisi yang menujukkan
sejauh mana perilaku seseorang konsisten (ajeg) dari satu situasi ke situasi
yang lain. Semakin konsisten perilakuXseseorangXdariXhariXkeXhariXmakaXsemakinXtinggiXkonsistensi perilakuXorangXtersebut.
3. Keunikan
3. Keunikan
Keunikan menujukkan sejauhmana seseorang bereaksi
dengan cara yang sama terhadap stimulus atau peristiwa yang berbeda.
Kovariasi antar ke tiga factor di atas akan
menentukan apakah perilaku seseorang akan diatribusikan sebagai atribusi
internal (disebabkan oleh factor dari dalam diri, yakni sifat/dispoisi
kepribadian) ataukah disebabkan factor di luar diri atauXfactorXsituasi. Perilaku akan diatribusikan
sebagai atribusi internal bila perilaku tersebut memiliki consensus yang
rendah, konsistensi tinggi dan keunikan yang rendah
C.
Memelihara
dan Mempertahankan Perilaku dalam Seting Karir
Terdapat beberapa hal utama
yang dapat mempengaruhi tingkah laku seseorang diantaranya:
1.
Lingkungan
Yang
disebut dengan lingkungan adalah mulai dari tempat tinggal kita (rumah),
sekolah, kantor sebagai tempat kerja kita sehari-hari, media massa yang kita
tonton/dengar/baca setiap hari, latar belakang kebudayaan, latar belakang
agama, latar belakang tradisi, latar belakang kepercayaan, lingkungan sosial
serta lingkungan politik. Di
dalam lingkungan yang positif, output yang dihasilkan dari performa seseorang
akan meningkat, sebaliknya di dalam lingkungan yang negatif, performa yang pada
dasarnya sudah baik justru akan menghasilkan output yang kian menurun.
2.
Pengalaman
Kebiasaan
kita dalam bertingkah laku berubah seiring dengan pengalaman kita terhadap
orang lain dan peristiwa yang terjadi di dalam hidup kita. Jika kita memiliki
pengalaman yang positif dengan seseorang, maka secara natural kita akan bersikap
positif pula terhadap orang tersebut, demikian juga sebaliknya.
3.
Pendidikan
Pendidikan
yang dimaksudkan di sini mencakup baik pendidikan formal maupun pendidikan
informal, tidak sekedar jenjang akademik. Sering kali kita tidak menyadari
bahwa kebutuhan kita terhadap informasi terpenuhi akan tetapi sangat kekurangan
dalam hal pengetahuan dan kebijaksanaan. Pendidikan seharusnya tidak hanya
mengajarkan kita bagaimana agar dapat tetap hidup tetapi juga bagaimana kita
seharusnya menjalani hidup.
Perilaku dapat berubah sewaktu-waktu. Sosial individu, dalam
hal ini yang telah dijelaskan diatas salah satunya factor lingkungan individu
sangat berpengaruh terhadap perubahan perilaku yang telah dibentuk. Lingkungan
dapat mengubah suatu perilaku menjadi baik atau bahkan sebaliknya. Untuk
mencegah adanya perubahan kearah yang negative, maka seorang individu perlu
memahami tentang bagaimana cara memelihara dan mempertahankan perilakunya
ditengah kehidupan yang terus berkembang.
C.1 Memelihara dan Mempertahankan
Perilaku
Pemeliharaan
perilaku selalu berkaitan dengan perilaku yang diharapkan telah terbentuk. Perilaku manusia merupakan suatu
proses belajar yang terus berkembang. Ketika suatu proses belajar dapat
dimanifestasikan oleh individu, maka suatu perilaku terbentuk. Terbentuknya
suatu perilaku manusia, bukanlah suatu ketetapan akan seperti itu seterusnya,
namun akan mengalami perubahan. Perubahan-perubahan dapat terjadi dan salah
satunya disebabkan oleh adanya pengaruh karir. Pemeliharaan
perilaku bertujuan agar perilaku yang sudah terbentuk tidak hilang atau
berkurang frekuensi, intensitas dan lamanya.
Pemeliharaan
perilaku dilakukan dengan mengatur jadwal dan kualitas pemberian penguatan
(reinforcement). Jadwal pemberian pengukuh ialah aturan yang dianut oleh
pemberi pengukuh dalam menentukan diantara sekalian kali perilaku timbul, kapan
atau yang mana yang akan mendapat pengukuh. Seperti yang telah dikemukan pada
pembahasan –pembahasan kelompok terdahulu, bahwa ada beberapa macam jadwal, yaitu
jadwal pengukuhan secara terus menerus (
Continous reinforcement schedule atau CRS ) dan Jadwal pengukuhan berselang atau pengukuhan sebagian ( intermittent reinforcement schedule ).
Efek kedua jadwal ini berbeda. Jadwal pengukuhan terutama memperkuat perilaku
dengan cepat, tetapi perilaku akan cepat pula terhapus bila pemberian
dihentikan. Jadwal pengukuhan berselang, tergantung pada pengaturan jangka
berselangnya, dapat cepat atau lambat memperkuat perilaku. Tetapi jadwal
pengukuhan berselang cenderung lebih memelihara dan mempertahakankan perilaku
yang dikukuhkan. Ketepatan waktu dalam memberikan penguatan akan mampu
memelihara perilaku. Sealin itu, Kualitas penguatan yang diberikan kepada klien
akan mampu memelihara perilaku.
Cara
membentuk atau mempertahankan tingkah laku yang positif yang pertama adalah
kepekaan terhadap hal-hal mendasar yang dapat membentuk tingkah laku yang
positif, kemudian seseorang juga harus memiliki keinginan untuk menjadi
seseorang yang positif, dan meningkatkan disiplin dan dedikasi untuk
mempraktekkan hal-hal tersebut di dalam kehidupan sehari-hari.
C.2 Bentuk Sikap dan Perilaku Seseorang dalam Konteks Karir
Berbagai bentuk dan jenis perilaku sosial seseorang pada dasarnya
merupakan karakter atau ciri kepribadian yang dapat teramati
ketika seseorang berinteraksi dengan orang lain. Berikut ini adalah Sikap seseorang dalam
konteks karir:
1)
Mampu menilai diri sendiri secara
realisitik; mampu menilai diri apa adanya tentang kelebihan dan kekurangannya,
secara fisik, pengetahuan, keterampilan dan sebagainya.
2) Mampu
menilai situasi secara realistik; dapat menghadapi situasi atau kondisi
kehidupan yang dialaminya secara realistik dan mau menerima secara wajar, tidak
mengharapkan kondisi kehidupan itu sebagai sesuatu yang sempurna.
3) Mampu
menilai prestasi yang diperoleh secara realistik; dapat menilai keberhasilan
yang diperolehnya dan meraksinya secara rasional, tidak menjadi sombong, angkuh
atau mengalami superiority complex, apabila memperoleh prestasi yang tinggi
atau kesuksesan hidup. Jika mengalami kegagalan, dia tidak mereaksinya dengan
frustrasi, tetapi dengan sikap optimistik.
4) Menerima
tanggung jawab; dia mempunyai keyakinan terhadap kemampuannya untuk mengatasi
masalah-masalah kehidupan yang dihadapinya.
5) Kemandirian;
memiliki sifat mandiri dalam cara berfikir, dan bertindak, mampu mengambil
keputusan, mengarahkan dan mengembangkan diri serta menyesuaikan diri dengan
norma yang berlaku di lingkungannya.
6) Dapat
mengontrol emosi; merasa nyaman dengan emosinya, dapat menghadapi situasi
frustrasi, depresi, atau stress secara positif atau konstruktif , tidak
destruktif (merusak).
7) Berorientasi
tujuan; dapat merumuskan tujuan-tujuan dalam setiap aktivitas dan kehidupannya
berdasarkan pertimbangan secara matang (rasional), tidak atas dasar paksaan
dari luar, dan berupaya mencapai tujuan dengan cara mengembangkan kepribadian
(wawasan), pengetahuan dan keterampilan.
8) Berorientasi
keluar (ekstrovert); bersifat respek, empati terhadap orang lain, memiliki
kepedulian terhadap situasi atau masalah-masalah lingkungannya dan bersifat
fleksibel dalam berfikir, menghargai dan menilai orang lain seperti dirinya,
merasa nyaman dan terbuka terhadap orang lain, tidak membiarkan dirinya
dimanfaatkan untuk menjadi korban orang lain dan mengorbankan orang lain,
karena kekecewaan dirinya.
9) Penerimaan
sosial; mau berpartsipasi aktif dalam kegiatan sosial dan memiliki sikap
bersahabat dalam berhubungan dengan orang lain.
10) Memiliki
filsafat hidup; mengarahkan hidupnya berdasarkan filsafat hidup yang berakar
dari keyakinan agama yang dianutnya.
11)
Berbahagia; situasi kehidupannya diwarnai
kebahagiaan, yang didukung oleh faktor-faktor achievement (prestasi), acceptance
(penerimaan), dan affection (kasih sayang).
C.3 Merubah Perilaku dalam Karir
Jika seorang individu memiliki sikap negatif
terhadap satu atau beberapa aspek dalam kehidupan organisasi atau pekerjaan,
seorang pimpinan atau kepala hendaknya berusaha untuk merubah sikap negatif tersebut
menjadi sikap yang positif. Meskipun terkadang individu cenderung resisten terhadap perubahan. Oleh
karena itu sebelum melakukan perubahan sikap individu harus terlebih dahulu
diketahui bagaimana cara terbaik untuk melakukan perubahan dan kemungkinan
tingkat keberhasilannya. Perubahan sikap dapat dilakukan dengan menambah,
menghilangkan atau memodifikasi keyakinan atau komponen afektif lainnya.
Diantaranya adalah:
- Memberi informasi baru.
Hal ini dilakukan semisal ketika pegawai
atau pekerja tidak tau mengenai suatu informasi yang berkaitan dengan pekerjaan
atau karirnya, sehingga perilakunya cenderung negative maka pemimpin atau
kepala dapat memberikan suatu informasi yang berkaitan dengan pekerjaan atau
karir tersebut untuk merubah perilaku pegawainya menjadi postif.
- Menambah atau mengurangi rasa takut.
Menambah rasa takut dapat berbentuk seperti
halnya sebuah ancaman untuk menakut- nakuti individu agar tidak melakukan
perbuatan negative tersebut, sedangkan mengurangi rasa takut dapat berwujud
seperti halnya ketika individu merasakan sebuah ketakutan dalam melakukan suatu
perbuatan maka dapat dikurangi rasa takut tersebut dengan memberikan sebuah
pengertian atau nasihat dan masukan.
- Menambah dan mengurangi keraguan.
Menambah dan mengurangi keraguan dilakukan
apabila individu mengalami keraguan yang berpengaruh pada perilakunya maka
dapat ditambah ataupun dikurangi keraguan tersebut guna merubah perilaku
menjadi lebih baik.
- Partisipasi dalam diskusi kelompok.
Partisipasi dalam diskusi kelompok sangat
penting dalam memecahkan sebuah permasalahan yang terjadi pada karir dan
sebagainya. Sehingga dengan terpecahkannya sebuah masalah perilaku yang tadinya
salah menjadi benar.
Seorang
pemimpin atau kepala perlu memahami
dengan baik sikap kerja bawahannya mengingat sikap positif atau sebaliknya
sikap negatif tentu akan berpengaruh terhadap kinerja organisasi. Pada bagian
ini akan diuraikan tiga bentuk sikap kerja yang diyakini berpengaruh terhadap
kinerja yaitu: Kepuasan kerja, komitmen organisasi dan keterlibatan kerja.
a. Kepuasan
Kerja
Kinerja
yang tinggi tidak selalu diikuti oleh kepuasan kerja karyawan. Demikian juga
kepuasan kerja yang tinggi tidak selalu menyebabkan kinerja organisasi tinggi.
Yang paling ideal adalah kepuasan kerja kerja karyawan diikuti oleh kinerja
organisasi. Inilah harapan para Pempinan atau kepala pada umumnya. Oleh karena
itu berbagai macam studi dilakukan untuk menciptakan kondisi ideal tersebut.
Kepuasan kerja itu sendiri dalam beberapa hal dipengaruhi oleh sikap kerja
karyawan dan selanjutnya berdampak pada keterlibatan kerja, komitmen organisasi
dan tingkat kesehatan fisik dan mental karyawan. Sebaliknya ketidakpuasan dalam
bekerja bisa meningkatkan tingkat absensi, kegersangan organisasi
(organizational drift), iklim kerja yang tidak kondusif, dan
persoalan-persoalan ketenagkerjaan lainnya. Oleh karena itu dalam praktik para
manajer biasanya secara reguler melakukan survei untuk mengetahui sikap
karyawan dan dampaknya terhadap kepuasan kerja.
b. Komitmen Organisasi
b. Komitmen Organisasi
Komitmen
organisasi adalah nilai-nilai personal yang kadang-kadang disebut sebagai loyalitas
atau komitmen terhadap perusahaan. Yang dimaksud dengan komitmen organisasi
adalah tingkat identifikasi diri dan keterlibatan karyawan terhadap organisasi.
Ada tiga karakteristik penting berkaitan dengan komitmen organisasi, yaitu (1)
keyakinan yang sangat kuat terhadap nilai-nilai dan tujuan organisasi, (2) mau
berupaya lebih keras demi organisasi, dan (3) mempunyai keinginan yang kuat
untuk tetap menjadi bagian dari organisasi. Ketiga karakteristik ini
menunujukkan bahwa komitmen organisasi bukan sekedar loyal kepada organisasi
secaa pasif melainkan berpartisipasi aktif dengan memberi kontribusi personal
agar organisasi berhasil.
Komitmen
karyawan terhadap organisasi, disebabkan karena beberapa factor berikut ini.
1. Factor
personal. Karyawan yang lebih tua biasanya memiliki komitmen yang lebih tinggi
dibanding karyawan muda. Demikain juga karyawan perempuan lebih berkomitmen
dibandingkan karyawan laki-laki. Sedangkan karyawan berpendidikan rendah akan
menunjukkan komitmennya dibandingkan karyawan berpendidikan lebih tinggi.
2. Karakteristik
yang terkait dengan peran karyawan. Komitmen organisasi akan lebih kuat jika
konflik peran dan ambigu relatif lebih kecil.
3. Karakteristik
structural. Organisasi yang terdesentralisasi menghasilkan komitmen yang lebih
tinggi dibandingkan organisasi yang sentralistik. Dengan desentralisasi
organisasi berarti karyawan bisa berpartisipasi langsung dalam mengambil
keputusan yang berkaitan pekerjaannya.
4. Pengalaman
kerja. Karyawan dengan pengalaman kerja yang cukup lama dan lebih-lebih
karyawan tersebut merasa memperoleh keuntungan dari perusahaan cenderung
memiliki komitmen yang lebih tinggi.
c. Keterlibatan Kerja
Keterlibatan
kerja bisa disebut sebagai nilai-nilai kerja. Secara umum keterlibatan kerja
didefinisikan sebagai kekuatan hubungan antara konsep diri dan kerja individual
seseorang. Seseorang dikatakan keterlibatannya dalam kerja sangat tinggi jika:
(1) berpartisipasi secara aktif. (2) memandang kerja sebagai bagian dari hidup
yang sangat penting dan (3) melihat pekerjaan dan seberapa baik ia bekerja
sebagai bagian penting dari konsep diri mereka. Seseorang yang keterlibatannya
dalam pekerjaan sangat tinggi cenderung menyatu dengan pekerjaan – memiliki ego
yang tinggi terhadap pekerjaan. Ia bisa menghabiskan waktu berjam-jam untuk
bekerja dan manakala jauh dari tempat kerja ia selalu memikirkannya. Jika gagal
mengerjakan proyek ia merasa frustasi. Jika hasil kerjanya jelek ia merasa
malu. Bagi orang-orang semacam ini, pekerjaan adalah aspek penting dalam
hidupnya. Job involvement merupakan hasil dari kombinasi antara karakteristik
seseorang dengan factor-faktor organisasi.
Seseorang
akan menunjukkan keterlibatan kerja yang lebih tinggi jika orang tersebut
berkomitmen terhadap etika kerja, atau jika ia memiliki konsep diri yang
sejalan dengan kinerjanya. Keterlibatan kerja yang lebih tinggi juga terkait
dengan sejauh mana pekerjaan tersebut memberi kesempatan bagi dirinya untuk
berpartisipasi dalam membuat keputusan penting tentang pekerjaan tersebut.
Akibatnya, keterlibatan kerja merupakan hasil dari kombinasi antara orientasi
nilai Si pekerja dengan karakteristik pekerjaan yang diharapkan yang memungkin
ia terlibat dalam pekerjaan.
PENUTUP
A.
Simpulan
1. Perilaku bukanlah suatu pembawaan
yang ada begitu saja, namun merupakan suatu proses pembelajaran
2. karir seorang individu melibatkan
rangkaian pilihan dari berbagai macam kesempatan. Jika ditinjau dari sudut
pandang organisasi, karir melibatkan proses dimana organisasi memperbaharui
dirinya sendiri untuk menuju efektivitas karir yang merupakan batas dimana rangkaiandari
sikap karir dan perilaku dapat memuaskan seorang individu.
3.
Cara
membentuk atau mempertahankan tingkah laku yang positif yang pertama adalah
kepekaan terhadap hal-hal mendasar yang dapat membentuk tingkah laku yang
positif, kemudian seseorang juga harus memiliki keinginan untuk menjadi
seseorang yang positif, dan meningkatkan disiplin dan dedikasi untuk
mempraktekkan hal-hal tersebut di dalam kehidupan sehari-hari.
DAFTAR PUSTAKA
Poerwadarminta. 1984. Kamus Umum Bahasa Indonesia (Cetakan ke-7).
Jakarta: PN Balai Pustaka
http://ekonomi.kompasiana.com/manajemen/2011/07/06/definisi-karier/
memelihara apa ndut :D
BalasHapusokkkk bgt
BalasHapusbaguss buat reverensi
BalasHapusbgus.bagus :)
BalasHapusapiikk, makasih
BalasHapusbagus sekali :D
BalasHapusmakasi komen balik ya
BalasHapussipp
BalasHapus