A.
PSIKOANALISIS
1.
Sejarah
dan Tokoh
Teori Psikoanalisis atau Psikodinamika merupakan induk dari
teori-teori kepribadian yang ada saat ini.Teori ini dicetuskan oleh Sigmund
Freud.Ia adalah sorang dokter psikiatri (Sofyan, 2004: 57). Freud lahir pada
tahun 1896 lahir di Freiburg, Moravia.Freud adalah dokter muda ambisius yang
percaya bahwa dirinya telah menemukan sebuah obat yang memiliki semua jenis
khasiat ajaib, yaitu untuk mengurangi rasa sakit atau untuk meningkatkan
performa (Feist dan Feist, 2008: 17).Obat yang diceritakan olehnya adalah
kokain.
Pada
mulanya psikoanalisis adalah suatu metode untuk menghilangkan gangguan-gangguan
pada susunan saraf (gejala-gejala sakit hysteria) seperti penemuan kokain yang
diceritakan oleh Freud. Akan tetapi, metode tersebut lama kelamaan menjadi
metode untuk menyelidiki proses alam bawah sadar.Tokoh yang termasuk aliran ini
adalah dr. Breuer.
2. Konsep
Dasar
Teori Psikoanalisis merupakan teori
kepribadian yang menyatakan bahwa struktur kepribadian manusia terdiri dari 3
unsur, yaitu id, ego dan superego.
a. Id
(es)adalahkomponen biologis, sebagai sistem kepribadian yang orisinil. Id berupa dorongan-dorongan primitif
yang mengutamakan prinsip kesenangan. Id bersifat tidak sadar dan irasional. Contoh:
dorongan seksual, dorongan agresi
b. Ego(ich)adalah
komponen psikologis yang melakukan kontak dengan dunia realitas. Karena kontak dengan realitas
inilah, ego menjadi pengontrol utama kesadaran, menyediakan pemikiran dan
perencanaan yang relistik dan logis, dan akan sanggup meredam hasrat-hasrat
irasional id.
c. Superego (
uber ich) adalah komponen sosial (Corey, 2003: 14). Superego yang bertugas sebagai penentu baik buruknya. Superego juga
bersifat sesuai norma yang ditentukan oleh kebudayaan. Dorongan primitive dari id akan dihubungkan oleh ego menggunakan prinsip realitas dan
akan dinilai oleh superego.
Dorongan atau hasrat
dari idseperti keinginan untuk makan
semua makanan karena lapar disalurkan oleh ego
kepada superego.Ego mengatur
keseimbangan agar keinginan makan semua makanan disesuaikan dengan reaslitas.Superego membatasi kalau yang dimakan
hanyalah makanan yang ada di piring sendiri dan menyatakan kalau memakan
makanan orang lain adalah tidak baik.
Dalam mekanisme ketiga
unsur kepribadian tersebut, peran ego cukup
berat karena harus mengatur keseimbangan agar dorongan dari id yang dimunculkan ke kesadaran tetapi
juga agar tidak dorongan superego saja
yang dipenuhi. Orang yang memiliki ego lemah,
yaitu terlalu dikuasai oleh dorongan id
saja, maka orang tersebutakan menjadi psikopat
(tidak memperhatikan norma-norma sosial dalam segala tindakan). Sedangkan
orang dengan ego yang terlalu
dikuasai oleh superego, maka ia akan
menjadi psikoneurose (tidak
menyalurkan sebagian besar dorongan primitifnya).
Ego
dapat melakukan mekanisme
pertahanan (defence mechanism) untuk melindunginya dari ancaman dorongan
primitive yang mendesak terus karena tidak diijinkan oleh superego. Terdapat 9 mekanisme pertahanan ego yaitu:
1. Represi,
yaitu suatu bentuk pertahanan dimana hal yang pernah dialami dan menimbulkan
ancaman bagi ego ditekan masuk ke ketidaksadaran dan disimpan di sana agar
tidak mengganggu ego lagi
2. PembentukanReaksi,
yaitu suatu bentuk pertahanan dimana seseorang justru bereaksi sebaliknya dari
yang dikehendakinya demi tidak melanggar ketentuan superego
3. Proyeksi,
yaitu suatu bentuk pertahanan dimana karena superego melarang seseorang
mempunyai perasaan atau sikap tertentu terhadap oran lain, maka ia bersikap
seolah-olah orang lain yang mempunyai sikap atau perasaan tersebut
4. PenempatanyangKeliru,
yaitu bentuk pertahanan dimana seseorang tidak dapat melampiaskan perasaan
tertentu terhadaporang lain karena hambatan superego, maka ia melampiaskannya
ke pihak ketiga
5. Rasionalisasi,
yaitu bentuk pertahanan dimana dorongan-dorongan yang sebenarnya dilarang oleh
superego dicarikan penalaran sedemikian rupa sehingga dapat dibenarkan
6. Supresi,
yaitu bentuk pertahanan dengan jalan menekan sesuatu yang dianggap membahayakan
ego ke dalam ketidaksadaran
7. Sublimasi,
yaitu bentuk pertahanan diri dimana dorongan-dorongan yang tidak dibenarkan
oleh superego tetap dilakukan dalam bentuk yang lebih sesuai dengan norma yang
berlaku di masyarakat
8. Kompensasi,
yaitu usaha menutupi kekurangan di salah satu bidang atau organ lain dengan
meningkatkan prestasi di bagian lainnya
9. Regresi,
yaitu bentuk pertahanan untuk menghindari kegagalan-kegagalan atau ancaman dari
ego, seseorang mundur kembali ke taraf perkembangan yang lebih rendah.
Teori Psikoanalisis
memandang tingkah laku sebagai hasil dari mekanisme ketiga unsur kepribadian
dalam struktur kepribadian yang melibatkan id, ego dan superego.Tingkah laku
berasal dari dorongan-dorongan primitif yang diseleksi oleh superego melalui
peran ego dalam menyalurkannya.Artinya, tingkah laku dipengaruhi oleh
dorongan-dorongan ketidaksadaran (alam bawah sadar).
d.
Teknik-Teknik
yang Digunakan
1) Asosiasi
bebas
Teknik pokok dalam terapai psikoanalisa
adalah asosiasi bebas.Konselor memerintahkan klien untuk menjernihkan pikiranya
adari pemikiran sehari-hari dan sebanyak mungkin untuk mengatakan apa yang muncul
dalam kesadaranya. Yang pokok, adalah klien mengemukakan segala sesuatu melalui
perasaan atau pemikiran dengan melaporkan secepatnya tanpa sensor.Metode ini
adalah metoda pengungkapan pangalaman masa lampau dan penghentian emosi-emosi
yang berkaitan dengan situasi traumatik dimasa lalu.
2) Interpretasi
Adalah prosedur dasar yang digunakan dalam
analisis asosiasi bebas, analisi mimpi, analisis resistensi dan analisis
transparansi.Prosedurnya terdiri atas penetapan analisis, penjelasan, dan
mengajarkan klien tentang makna perilaku dimanifestasikan dalam mimpi, asosiasi
bebas, resistensi dan hubungan terapeutik itu sendiri. Fungsi interpretasi
adalah membiarkan ego untuk mencerna materi baru dan mempercepat proses
menyadarkan hal-hal yang tersembunyi.
3) Analisis
mimpi
Merupakan prosedur yang penting untuk
membuka hal-hal yang tidak disadari dan membantu klien untuk memperoleh tilikan
kepada masalah-masalah yang belum terpecahkan.
4) Analisis
dan interpretasi resistensi
Freud memandang resistensi sebagai suatu
dinamika yang tidak disadari yang mendorong seseorang untuk mempertahankan
terhadap kecemasan.Interpretasi konselor terhadap resistensi ditujukan kepada
bantuan klien untuk menyadari alasan timbulnya resistensi.
5) Analisis
dan interpretasi transferensi
Transferensi muncul dengan sendirinya
dalam proses terapeutik pada saat dimana kegiatan-kegiatan klien masa lalu yang
tak terselesaikan dengan orang lain, menyebabkan dia mengubah masa kini dan
mereaksi kepada analisis sebagai yang dia lakukan kepada ibunya atau ayahnya
ataupun siapapun.
2)
Kelebihan
dan Kelemahan
Kelebihan
1.
Konseling psikoanalisis merupakan
penyembuhan yang lebih bersifat psikologis dengan cara-cara fisik
2.
Adanya penyesuaian antara teori dan
teknik
3.
Teori kepribadian dan teknik terapi
4.
Model penggunaan wawancara sebagai
alat terapi
5.
Terlalu meminimalkan rasionalitas
Kekurangan
1.
Pandangannya yang terlalu
deterministic dan dinilai terlalu merendahkan martabat manusia.
2.
Terlalu banyak menekankan kepada
pengalaman kanak-kanak, dan menganggap kehidupan seolah-olah sepenuhnya di
tentukan masa lalu. Hal ini memberikan gambaran seolah-olah sepenuhnya tanggung
jawab individu berkurang.
3.
Terlalu meminimalkan rasionalitas.
3)
Aplikasi/Penerapan
Teori
Psikoanalisis memberikan kepada
konselor suatu kerangka konseptual untuk melihat tingkah laku serta untuk
memahami sumber-sumber dan fungsi-fungsi simptomologi yang tampil
sekarang.Psikoanalisis juga sangat berguna untuk memahami fungsi
pertahanan-pertahanan ego sebagai reaksi-reaksi terhadap kecemasan. Jika
konselor mengabaikan sejarah masa lampau kliennya, berarti ia membatasi
pandangannya atas penyebab-penyebab penderitaan yang dialami oleh klien dan
sifat gaya hidup klien sekarang. Hal itu tidak berarti bahwa konselor harus
terpaku pada masa lampau klien,menggali dan membahasnya secara eksklusif,
tetapi berarti bahwa pengabaian pengalaman-pengalaman masa dini sebagai
determinan-determinan konflik-konflik yang terjadi sekarang membatasi kemampuan
konselor untuk membantu pertumbuhan klien. Tidak ada alasan untuk menimpakan kesalahan
pada masa lampau atas fakta bahwa klien sekarang, umpamanya, tidak mampu
mencintai.Akan tetapi, bagaimanapun, jika klien merasa takut untuk membentuk
hubungan yang akrab dengan orang lain, maka konselor harus memahami akar-akar
kekuragan kliennya itu. Tambahan pula, konseling akan mencakup penembusan
sejumlah rintangan masa lampau yang sekrang menghambat klien dalam mencintai.
B.
HUMANISTIK
1. Sejarah
dan Tokoh
Sejarah
Sepanjang sejarah
keinginan manusia untuk mengetahui sebab-sebab tingkah lakunya dan semenjak
psikologi menjadi pengetahuan yang otonom, masalah aspek kejiwaan yang
mengatur, membimbing dan mengontrol tingkah laku manusia selalu timbul dan
menjadi persoalan.Pengertian umum (popular) mengenai inner entity ini
barangkali ialah jiwa (soul). Menurut teori “Jiwa“
gejala-gejala kejiwaan (mental phenomena) dianggap sebagai
pencerminan (manifestasi) substansi khusus yang secara khas berbeda dari
substansi kebendaan. Dalam pikiran keagamaan jiwa itu dipandang sebagai abadi,
bebas dan asalnya suci.
Dengan berkembangnya
psikologi yang positifitas pengertian tentang jiwa atau aspek-aspek kejiwaan
yang lain seperti mind, ego, will, self itu
cenderung untuk ditolak, terlebih di Amerika Serikat. Tetapi akhir-akhir ini
diantara ahli-ahli di Amerika Serikat terdapat perhatian terhadap pengertian self
itu. W.James dalam bukunya :Principles of Psychology (1890, chapter X
).
Tokoh-tokoh
TEORI BELAJAR HUMANISTIK
Tujuan belajar adalah untuk memanusiakan manusia.
Akan berhasil jika sipelajar telah memahami lingkungan dan dirinya sendiri.
Teori ini berusaha memahami perilaku belajar dari sudut pandang pelakunya,
bukan dari sudut pendang pengamatannya.
Tujuan utama para pendidik ialah membantu siswa
untuk mengembangkan dirinya, yaitu membantu masing-masing individu untuk
mengenal diri mereka sendiri sebagai manusia yang unik dan membantu dalam
mewujudkan potensi-potensi yang ada pada diri mereka. Para ahli humanistik
melihat adanya dua bagian pada proses belajar, ialah:
1. Proses pemerolehan informasi baru,
2. Personalisasi informasi ini pada individu
Tokoh-tokohnya:
1. Arthur Combs (1912 – 1399)
Combs memberikan lukisan persepsi diri dan dunia
seseorang seperti dua lingkaran (besar dan kecil) yang bertitik pusat satu.
Lingkaran kecil (1) adalah gambaran dari persepsi diri dan lingkungan besar (2)
adalah persepsi dunia. Main jauh peristiwa-peristiwa itu dari persepsi diri
makin berkurang pengaruhnya terhadap perilakunya. Jadi, hal-hal yang mempunyai
sedikit hubungan dengan diri, makin mudah hal itu terlupakan.
2. Abraham Maslow
Teori Maslow didasarkan
atas asumsi bahwa di dalam diri individu ada dua hal:
1.
Suatu usaha yang positif untuk berkembang.
2.
Kekuatan untuk melawan atau menolak perkembangan itu.
3. Carl Rogers
Carl Rogers, seorang psikolog humanistik lainnya,
mengutarakan sebuah teori yang disebut dengan teori pribadi terpusat. Seperti
halnya Freud, Rogers menjelaskan berdasarkan studi kasus klinis untuk
mengutarakan teorinya. Dia juga mengembangkan gagasan dari Maslow serta ahli
teori lainnya. Dalam pandangan Rogers, konsep diri merupakan hal terpenting
dalam kepribadian, dan konsep diri ini juga mencakup kesemua aspek pemikiran,
perasaan, serta keyakinan yang disadari oleh manusia dalam konsep dirinya.
Kongruensi dan Inkongruensi
Rogers mengatakan bahwa konsep diri manusia
seringkali tidak tepat secara sempurna dengan realitas yang ada. Misalnya,
seseorang mungkin memandang dirinya sebagai orang yang sangat jujur namun
kenyataannya seringkali berbohong kepada atasannya tentang alasan mengapa dia
datang terlambat. Rogers menggunakan istilah inkongruensi (ketidaksejajaran)
untuk mengacu pada kesenjangan antara konsep diri dengan realitas. Di sisi
lain, kongruensi, merupakan kesesuaian yang sangat akurat antara konsep diri
dengan realitas.
Menurut Rogers, para orang tua akan memacu adanya
inkongruensi ini ketika mereka memberikan kasih sayang yang kondisional kepada
anak-anaknya. Orang tua akan menerima anaknya hanya jika anak tersebut
berperilaku sebagaimana mestinya, anak tersebut akan mencegah perbuatan yang
dipandang tidak bisa diterima. Disisi lain, jika orang tua menunjukkan kasih
sayang yang tidak kondisional, maka si anak akan bisa mengembangkan
kongruensinya. Remaja yang orang tuanya memberikan rasa kasih sayang
kondisional akan meneruskan kebiasaan ini dalam masa remajanya untuk mengubah
perbuatan agar dia bisa diterima di lingkungan.
2.
Konsep Dasar
Teori Humanistik
menyatakan bahwa pada dasarnya manusia memiliki kesadaran terhadap dirinya
sendiri dan tentang apa yang dilakukannya. Manusia bebas melakukan sesuatu dan
memiliki tanggung jawab atas apa yang dilakukannya. Manusia memiliki keunikan
yang tidak dimiliki oleh manusia lainnya. Manusia mampu menentukan sendiri apa
yang akan dilakukannya.
Pandangan Humanistik berfikus pada kondisi manusia (Corey, 2003: 54). Lebih
lanjut, Corey (2003: 54) menyatakan bahwa manusia memiliki kesanggupan untuk
menyadari dirinya sendiri, suatu kesanggupan yang unik dan nyata yang
memungkinkan manusia mampu berpikir dan memutuskan.
3.
Teknik-Teknik yang
Digunakan
a. Client centered: kegiatan berpusat pada
klien.
b. Acceptance: penerimaan pada klien.
c. Respect: menghargai klien.
d. Understanding: memahami klien.
e. Reassuarance: menentramkan hati klien.
f. Encouredment: memberikan dorongan pada
klien.
g. Limited questioning: pertanyaan
terbatas pada klien.
h. Reflection: pemantulan kembali apa yang
diungkapkan klien.
4.
Kelebihan dan
Kelemahan
a. Kelebihan Teori Humanistik
1)
selalu
mengedepankan akan hal-hal yang bernuansa demokratis, partisipatif-dialogis dan
humanis.
2)
Suasana pembelajaran
yang saling menghargai, adanya kebebasan berpendapat, kebebasan mengungkapkan
gagasan.
3)
keterlibatan peserta didik dalam
berbagai aktivitas di sekolah, dan lebih-lebih adalah kemampuan hidup bersama
(komunal-bermasyarakat) diantara peserta didik yang tentunya mempunyai
pandangan yang berbeda-beda.
b.
Kekurangan
Teori Humanistik :
1)
Teori
humanistik tidak bisa diuji dengan mudah.
2)
Banyak konsep
dalam psikologi humanistik, seperti misalnya orang yang telah berhasil
mengaktualisasikan dirinya, ini masih buram dan subjektif.
3)
Psikologi humanistik mengalami pembiasan
terhadap nilai individualistis.
5.
Aplikasi/Penerapan
Teori
Aplikasi teori humanistik lebih
menunjuk pada ruh atau spirit selama proses pembelajaran yang mewarnai
metode-metode yang diterapkan. Peran guru dalam pembelajaran humanistik adalah
menjadi fasilitator bagi para siswa sedangkan guru memberikan motivasi,
kesadaran mengenai makna belajar dalam kehidupan siswa. Guru memfasilitasi
pengalaman belajar kepada siswa dan mendampingi siswa untuk memperoleh tujuan
pembelajaran.
Siswa berperan sebagai pelaku utama
(student center) yang memaknai proses pengalaman belajarnya sendiri. Diharapkan
siswa memahami potensi diri , mengembangkan potensi dirinya secara positif dan
meminimalkan potensi diri yang bersifat negatif.
Pembelajaran berdasarkan teori
humanisme ini cocok untuk diterpkan pada materi-materi pembelajaran yang
bersifat pembentukan kepribadian, hati nurani, perubahan sikap, dan analisis
terhadap fenomena sosial.Indikator dari keberhasilan aplikasi ini adalah siswa
merasa senang bergairah, berinisiatif dalam belajar dan terjaadi perubahan pola
pikir, perilaku dan sikap atas kemauan sendiri.Siswa diharapkan menjadi manusia
yang bebas, berani, tidak terikat oleh pendapat orang lain dan mengatur pribadinya
sendiri secara bertanggungjawab tanpa mengurangi hak-hak orang lain atau
melanggar aturan , norma , disiplin atau etika yang berlaku.
Psikologi humanisme memberi
perhatian atas guru sebagai fasilitator.
1. Fasilitator sebaiknya memberi perhatian kepada penciptaan suasana
awal, situasi kelompok, atau pengalaman kelas
2. Fasilitator membantu untuk memperoleh dan memperjelas tujuan-tujuan
perorangan di dalam kelas dan juga tujuan-tujuan kelompok yang bersifat umum.
3. Dia mempercayai adanya keinginan
dari masing-masing siswa untuk melaksanakan tujuan-tujuan yang bermakna bagi
dirinya, sebagai kekuatan pendorong, yang tersembunyi di dalam belajar yang
bermakna tadi.
4. Dia mencoba mengatur dan menyediakan sumber-sumber untuk
belajar yang paling luas dan mudah dimanfaatkan para siswa untuk membantu
mencapai tujuan mereka.
5. Dia menempatkan dirinya sendiri sebagai suatu sumber yang fleksibel
untuk dapat dimanfaatkan oleh kelompok.
6. Di dalam menanggapi ungkapan-ungkapan di dalam kelompok kelas, dan
menerima baik isi yang bersifat intelektual dan sikap-sikap perasaan dan
mencoba untuk menanggapi dengan cara yang sesuai, baik bagi individual ataupun
bagi kelompok
7. Bilamana cuaca penerima kelas telah mantap, fasilitator
berangsur-sngsur dapat berperanan sebagai seorang siswa yang turut
berpartisipasi, seorang anggota kelompok, dan turut menyatakan pendangannya
sebagai seorang individu, seperti siswa yang lain.
8. Dia mengambil prakarsa untuk ikut serta dalam kelompok, perasaannya
dan juga pikirannya dengan tidak menuntut dan juga tidak memaksakan, tetapi
sebagai suatu andil secara pribadi yang boleh saja digunakan atau ditolak oleh
siswa.
Daftar Pustaka
Feist, Jess dan Gregory J. Feist.
2008. Theories of Personality.
Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Gibson, Robert L. dan Marianne H.
Mitchell. 2011. Bimbingan dan Konseling.
Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Corey, Gerald. 2003. Teori dan Praktek Konseling dan Psikoterapi.
Bandung: PT Refika Aditama.
Willis, Sofyan S. 2004. Konseling: Teori dan Praktek. Bandung: ALFABETA.
Sugihartono,dkk. (2006). Psikologi Pendidikan.Yoyakarta: FIP UNY
http://resources.unpad.ac.id/unpad-content/uploads/publikasidosen/mengenal%20tipe%20kepribadian%20dan%20kesadaran%20manusia.pdf
http://rohadieducation.wordpress.com/2007/06/16/perilaku-dari-sudut-pandang-psikoanalisa/
http://sastra-broto.blogspot.com/2010/03/primer-of-freudian-psychology-calvin-s.html
bagus, sangat membantu^^
BalasHapusterimakasih,,,,,,,,,
yang abraham maslow dibahas detail dong ;D
BalasHapusbagus nh refrensi belajar, di tunggu postt selanjutnya
BalasHapuscom back
BalasHapusbagus, di tunggu postan selanjutnya yaah..
BalasHapus